Seorang Perempuan dan Seekor Cicak

Cerita ini dibuat 30 April 2013, di akun twitter yang dikhususkan untuk tempat meracau. Lama sudah saya nggak ngisi blog, pengen bikin entri baru tapi bingung mau nulis apa, jadinya memutuskan mau isi ini aja—ya, walaupun ini tulisan nggak jelas, yang penting blog ini terisi deh. Haha.

—–

images

Di sebuah sore yang sejuk, duduk seorang perempuan bersandarkan kasur yang berdiri. Kepalanya sedang merebus sesuatu. Merebus apalah itu yang tidak matang-matang. Dari hidung dan telinganya berebutan keluar asap putih, tak berhenti. Rambut memekik ingin segera mati dan bergentayangan, katanya. Ah! Semakin aneh saja. Apalagi tiba-tiba ada cicak yang mengajak bicara.

“Oi! Jadi kompor nih?! Asapmu mengganggu gue! Nyamuk di sana gak keliatan! Sial.” Bukan ‘mengajak bicara’, ternyata.

Si perempuan mendelik ke atas, ke arah cicak congkak yang menempel di langit-langit.

“Kamu ya?! Kamu yang suka buang kotoran sembarangan!” Perempuan itu menuding galak, dari mulutnya asap keluar meloloskan diri.

Cicak membalas, “Hah?” ….saja.

“Kukira UFO karena hitam dan pipih ternyata…, kampretoooos!” teriak si perempuan, mengingat kenyataan yang pahit.

“STAHP! Jangan ngomong, asapmu! Tuh kan nyamuknya hilang. Tsk!” cicak bersedih lalu meradang lagi. “Awas lo kalo ganggu perburuanku lagi!”

“Kamu yang harus berhenti menjatuhkan ufo-ufomu di kamarku, berandal!” si perempuan menyentuh keningnya, merasa gila. Ia menarik napas.

“Ufo, ufo apaan sih? Mana ada ufo segede upil… Kalau lo berpikir!” dengus si cicak marah, ia tidak percaya perburuannya dikacaukan manusia.

Sial, batin si perempuan. Bisa-bisanya seekor cicak tengik menyuruhnya untuk berpikir. Pasti ada yang salah dengan dunia ini. Pasti!

“Dunia atau kepalamu yang salah? Pffft,” sahut cicak menahan tawa membuat si perempuan terlonjak.

Binatang itu bisa legilimens segala?!

Sial, sial, derajatku seolah terinjak-injak kaki cicak, begitu hatinya berontak. Sementara asap masih keluar dari hidung, telinga dan mulutnya

“Ooooi! ooooi! asapmu haduh! gue berasa di sauna ini… jadi panas!” Cicak mondar-mandir. “Lo menelan kereta lokomotif ya!?” bentaknya.

Cicak itu terlalu banyak bicara. Benar, berbicara! bagaimana bisa? perempuan itu terus bertanya-tanya sendiri. Mengacuhkan bentakan cicak.

“Huh. Bingung kenapa gue bisa bicara, tapi lo gak bingung kenapa kepala lo bisa masak segala. Manusia. Sudah waktunya cicak yang jadi khalifah!”

Benar juga, batin si perempuan. Mengapa kepalanya bisa memasak? Mengapa? ia bahkan tidak tahu awal mulanya bagaimana. “Berisik!” Gesit, si perempuan mengambil karet gelang bekas pengikat nasi bungkus yang dibeli tadi siang.

“Khalifah? Rasakan jurus karet gelang ini!”

Karet gelang ditarik membidik si cicak, syuung, selanjutnya terbang dengan kecepatan tinggi. Tepat! Cicak jatuh ke lantai. Si perempuan tertawa. Tidak, tapi terbahak. Kedua tangannya bertengger di pinggang, puas. “Sayonara sayonara~ sampai berjumpa pulang~” nyanyinya riang pada cicak.

Sementara itu si cicak menggelepar di atas keramik putih—tampak seperti meregang nyawa.

“S… setidaknya…” si cicak berkata lirih dengan mata yang mengerjap-ngerjap lemah. “Tuntun gue baca kalimat syahadat…”

 

 

-THE END-

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s