Pria Pengemis

Pria itu pagi-pagi buta langsung memasukkan sebelah kakinya pada lubang di tanah. Ia merapikan celananya dan duduk di sana seperti hari-hari sebelumnya. Seringaian terlihat samar di bibirnya.

 

Lihatlah, sebentar lagi.

 

BOOM!

 

Keajaiban akan dimulai.

 

Matahari semakin meninggi, receh-receh semakin memenuhi kalengnya yang berkarat. Tatapannya yang dibuat lesu diam-diam berkilat. Apalagi ketika ia tahu di antara receh-receh itu terselip uang sepuluh ribuan, lima ribuan. Ia bersorak dalam hati. Ternyata dunia masih menginginkan surga. Wajahnya yang legam dan berminyak semakin kumuh terlihat ketika jalanan semakin beringas melalulalangkan roda-roda, dan pasar semakin berisik oleh ibu-ibu.

 

Dengan gesit tangannya meraup seluruh isi kaleng bekas dan menumpahkannya ke dalam kantung rahasia di balik bajunya. Ia ambil lagi beberapa receh sebagai penghias kaleng. Peluh bertebaran di keningnya. Ini semua demi pekerjaan. Pekerjaan. Pria itu kembali menahan seringai ketika manusia baik lainnya mengisi kaleng.

 

“Terima kasih, terima kasih,” katanya dengan nada memelas yang prihatin.

 

Senja tiba, pasar semakin sepi. Kepalanya bergerak-gerak memastikan tak ada yang melihat. Kakinya ia angkat dari lubang, lubang itu kemudian ditutupnya dengan batu. Dan ia pergi dengan receh-recehnya, menghilang di balik tikungan jalan.

 

“BANGSAT!” umpatnya ketika anak-anak kecil ingusan tertawa-tawa sambil memunguti koin receh bahkan uang kertas yang membasah di air sungai. Pria kumuh itu baru saja tersandung batu dan menghempaskan seluruh uangnya dari balik baju.

 

Ia pulang dengan kepala berkedut jengkel. Anak-anak tak tahu adat! Lalu ia menghibur dirinya sendiri karena esok hari masih ada, masih ada kesempatan ia mengemis lagi. Lagipula di rumahnya yang sekilas tampak reot itu tertimbun sekarung uang.

 

“HAHAHA,” ia bahkan terbahak sampai kantuk menyergapnya.

 

Namun, esok paginya ia termenung getir melihat rumahnya yang nyaris rata dengan tanah. Rumahnya terbakar dan ia sempat melarikan diri karena dibangunkan rasa panas. Ia tak sempat menyelamatkan apa pun. Tidak selembar baju ganti, apalagi hartanya. Bahkan koin-koin receh pun tidak! Tampaknya ada yang mengambilnya ketika huru-hara subuh tadi. Hancur sudah apa yang sudah dikumpulkannya. Hancur semuanya.

 

***

Pria itu duduk dengan salah satu kaki disembunyikan ke dalam lubang di tanah lagi. Sudah dua minggu belakangan kaleng bekasnya hanya dilempari receh yang tak seberapa. Mimpi buruk mulai mendatanginya. Terlebih desas-desus yang beredar bahwa kini masyarakat membenci para pengemis lantaran terkuak bahwa mereka sebetulnya kaya. Ia merunduk geram melihat isi kalengnya yang tak memuaskan.

 

Dari sebuah arah terlihat sepasang muda-mudi berjalan ke arahnya. Hendak lewat. Betapa harapannya kini melambung, semoga mereka memberikan sedikit uangnya. Tidak apa-apa walau hanya lima ratus rupiah, pikirnya. Biasanya ia ingin meludah jika ada orang yang dengan muka sok dermawannya melemparkan uang yang hanya lima ratus rupiah saja.

 

Tapi akhirnya muda-mudi itu hanya lewat saja. Bahkan terdengar olehnya mereka saling berbisik.

 

“Jangan lagi kasih mereka uang, tak sudi aku.”

 

“Iya, di balik bajunya pasti ada uang jutaan.”

 

Si pria meradang, ia berdiri dan menendang kalengnya. “BERENGSEK! AKU MENGEMIS BETULAN!”

 

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s