Peri Embun

prb008_garden_fairy_land copy
source: http://www.artoflegendindia.com

Ini hari ketujuh. Hari di mana tak kudapati lagi nenek duduk di kursi goyang, membaca buku dengan kacamata bertengger di hidung. Ada satu hal yang melekat di kepalaku seperti permen karet yang selalu kutempelkan di bawah bangku sekolah. Nenek selalu menyuruhku bangun pagi buta, dan berjalan-jalan ke kebun. Katanya, aku akan melihat segerombol peri kebun bekerja, melayang-layang di sekitar tanaman kebun.

Aku memikirkannya tengah malam akan peri-peri itu. Lalu tertawa bodoh sambil menatap langit-langit. Dua tahun lalu aku pernah menyeret diriku sendiri ke kebun di pagi buta dan tak kutemukan apa-apa.

Itu hanya dongeng. Ah, tentu saja, nenek suka berdongeng.

Lalu aku terlelap dininabobokan orkestra serangga dari seberang jendela kamar.

***

Kurapatkan jaket. Pagi benar-benar buta, aku memandang lurus ke arah kebun yang samar-samar terlihat karena lampu jalan. Aku tidak tahu alasan sebenarnya mengapa aku bangun dan melihat kebun, jelas bukan karena aku ingin melihat peri. Mungkin karena aku hanya merindukan nenek. Tanpa sadar, kubayangkan ada lusinan peri di sekitar bunga bakung.

Memang ada!

Aku terhenyak dan menajamkan penglihatan.

lekas, lekas, lekas

kepakkan sayapmu

habiskan embun di tekomu

untuk seluruh penghuni kebun

lekas, lekas, lekas

sebelum matahari lahir di timur

o, sebelum matahari lahir di timur

Mereka bersenandung, mengalun lebih keras ke telingaku ketika aku memutuskan untuk mengendap-endap dan ingin melihat lebih jelas. Aku melihat wujud-wujud kecil bersayap melayang, membawa-bawa teko kekuningan dan meluncurkan air dari dalamnya ke permukaan serta lekukan dedaunan dan bunga.

Tubuhku bersembunyi di balik tanaman mahkota dewa, menganga melihat mereka dengan lincah hilir mudik memberikan embun untuk tanaman. Pendaran perak sayap mereka menari di bola mataku.

Mereka terus bekerja sambil bernyanyi.

“Lekas, lekas, lekas–ups!” aku malah ikut bernyanyi. Terlambat, mereka semua serempak menoleh ke arahku dan melayang menyerbuku dengan cicit-cicit yang tak kumengerti saking ributnya.

***

“Lekas, lekas, lekas! Kepakkan sayapmu, habiskan embun di tekomu!” aku bernyanyi dengan riang di antara bunga bakung, sayapku mengepak dengan ritmis, kutumpahkan sedikit demi sedikit embun pada dedaunan.

Ada sebuah bagian penting yang kulupakan dari dongeng nenek perihal peri di kebun. Sesiapa yang kedapatan melihat peri-peri itu, maka dia akan berubah menjadi peri.

Inilah aku. Peri embun di kebun.

Ini hari ketujuh aku menjadi peri. Aku masih menjadi manusia di siang hari. Dengan sendirinya pada malam hari ketika jam dinding berbunyi tiga kali, aku akan menjadi peri dan melayang ke kebun, bergabung bersama peri-peri lainnya untuk berkerja. Lalu ketika matahari lahir di timur, aku menyelinap lewat jendela kamar, menutup mata, dan kembali menjadi manusia. Selama aku menjauhi kebun setelah matahari lahir di timur, aku akan kembali menjadi manusia. Tapi sekalinya aku tak menjauhi kebun, aku akan terjebak menjadi peri selamanya.

Menyenangkan. Aku hidup di dalam dongeng yang dituturkan nenek. Aku merasa tak kesepian sebagai satu-satunya orang yang hidup di rumah tua itu. Aku memiliki kawanan peri yang menggembirakan.

Sebentar lagi matahari lahir di timur.

Ada sebuah jaring laba-laba yang membentuk jembatan pada dua buah tanaman bakung. Aku bermain-main sendirian, meniti jaring laba-laba itu sambil bersenandung. Tapi kemudian aku terpeleset, aku jatuh dan sengaja tak mengandalkan sayap untuk menahannya. Aku jatuh menggelosor pada dedaunan kuning tua di tanah.

Tawaku berderai-derai. Aku merasa bahagia.

Lilia, peri yang paling akrab denganku dan memiliki bulu mata yang tebal pernah bercerita padaku apa yang dilakukan bangsa peri ketika siang hari. Mereka akan bercengkrama di bawah akar pohon rambutan, menari, menyanyi, tidur, saling menjahili, atau bahkan menyeduh teh.

Sebentar lagi matahari lahir di timur.

Aku terdiam dan terbersit sebuah pikiran di kepalaku; Bagaimana jika aku mengabaikan keharusanku untuk menjauhi kebun saja?

Sementara itu, matahari mulai menyembul di timur.

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s