Permintaan Terakhir

Edwin Henry Landseer's painting
Edwin Henry Landseer’s painting

Matahari tepat di atas kepala tatkala beberapa prajurit kerajaan menggiring seorang pria muda yang diduga membunuh kelinci peliharaan puteri kerajaan. Langkahnya menuju tempat penjagalan agak terseok karena mendekam di penjara bawah tanah tanpa diberi makan. Sementara itu algojo bertubuh besar tampak sudah siap mengayunkan pedang.

Lapangan penjagalan sesak oleh rakyat yang riuh berbisik-bisik ngeri. Pria muda itu berlutut menunggu algojo melaksanakan tugas, namun terdengarlah suara serak Baginda Raja yang duduk di kursi agung dengan jubah sewarna emas.

“Apakah ada permintaan terakhir?”

Si pria muda mengernyit karena bara matahari dan hendak berkata cepatkanlah eksekusi ini karena berlama-lama di bawah matahari panas membuatnya semakin tersiksa. Akan tetapi, ia tidak jadi berkata seperti itu.

“Hamba punya permintaan terakhir, Baginda.”

“Apakah itu? Aku akan mengabulkannya,” Baginda Raja menegakkan duduknya dan mengambil sebutir anggur dari piring perak yang disodorkan dayang.

“Baginda betul-betul akan mengabulkannya?” tanya si pria muda.

Lalu terdengar kekehan panjang, ketika seluruh orang diam. “Tentu saja, semua rakyat yang hadir di sini adalah saksinya. Aku akan mengabulkan permintaan terakhirmu,” ujar Baginda Raja seakan dirinya adalah titisan dewa.

“Kalau begitu…,” pria muda itu berucap dan menyematkan sedikit jeda, “hamba ingin Baginda Raja membatalkan penjagalan ini dan membiarkan hamba hidup.”

Rakyat berseru riuh, dan didapati Baginda Raja memasang muka masam. Namun Baginda Raja tidak bisa mengingkari janjinya, maka dilepaskanlah tali pengikat lengan si pria muda dan dibiarkan ia melangkah pulang.

***

Seekor anjing menyambut majikannya pulang sambil terus berbunyi pilu bak serigala. Anjing itu merasa bersalah karena dialah yang mengoyak leher kelinci, dan memberikannya pada si pria muda untuk santapan beberapa hari. Keduanya tak mengira jika kelinci itu milik puteri kerajaan. Mereka hanya mengira itu adalah kelinci yang tersesat dari hutan.

“Tak apa, aku kembali,” pria muda itu bertutur menenangkan pada anjingnya. Tak lama lagi ia akan membawa anjingnya ke ladang, memanen sedikit kentang meski ia tahu belum waktunya untuk panen. Setidaknya, itu ladangnya, dan kentangnya. Tak akan membuat kepalanya nyaris terpelanting dan berpisah dari tubuh.

Dan jauh di lubuk hatinya pula, muncul keinginan untuk menjadi raja. Raja dermawan yang tak akan membiarkan rakyatnya memanen kentang sebelum waktunya.

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s