Monster Semut

Image
sumber: riddlerrpg.blogspot.com

 

“Kau tahu tidak?” suara itu begitu pelan dan lembut namun begitu menusuk.

Aku menggeleng dengan mata membeliak. Suara dari mana itu?

“Kalau aku…” suara itu kembali terdengar, “sudah mati kemarin malam.”

Aku menjerit dan lari dari ruang baca, membanting pintu kamar dan ketakutan memeluk lutut di samping tempat tidur. Apakah tadi aku mendengar suara hantu? Hantu siapa? Siapa yang mati kemarin? Atau apakah aku hanya kelelahan?

Burung-burung bernyanyi dari arah luar. Sinar mentari terlihat dari gorden tipis. Aku menghela napas. Ini bahkan masih pagi. Hari Minggu pagi. Aku bangkit, merasa konyol. Ini pasti hanya karena aku kelelahan. Ya. Aku terkekeh sambil bergerak menuju dapur, menyeduh kopi, lalu membawanya kembali ke ruang baca.

“Kau tak ingin tahu mengapa aku mati kemarin?”

Mulutku menyemburkan kopi dan memberikan bercak-bercak cokelat di atas koran lama yang sedang kubaca untuk keperluan laporan besok. Suara itu lagi. Mataku berkeliaran awas ke sana kemari. Tanganku bergetar ketika meletakkan cangkir kopi ke atas meja.

“Siapa kau?” teriakku nyaris gila. Menonton film horror saja aku tak berani, apalagi disapa suara tak berwujud. “Tunjukkan wujudmu sekarang!” Langsung saja aku menyesali perkataanku. Tidak, aku tidak mau pemilik suara itu menampakkan wujudnya. Aku bisa pingsan. Aku hanya ingin suara itu pergi dan tak pernah terdengar lagi.

Lima menit berlalu.

Aku berdecak jengkel melihat koran yang kotor tercemari kopi. Tiba-tiba aku merasakan ada yang menatapku dari balik buku yang tersusun di atas meja. Aku berteriak kaget melihat sepasang mata mengintip tanpa berkedip. Wujud itu lalu menampakkan diri, melayang mendekati wajahku. Wujudnya setengah transparan… dan mirip seekor semut. Semut rakasasa. Tubuhku sebetulnya bergetar hebat namun tak bisa bergerak.

Semut raksasa itu menyeringai, duduk di atas barisan buku.

“Kau tak ingin tahu mengapa aku mati kemarin?” ulangnya.

“T…ti… tidak,” ujarku tergagap.

Tiba-tiba saja semut raksasa itu meraung galak, mulutnya mengempaskan angin ke wajahku. Giginya yang mengerikan terlihat cukup kuat untuk mengoyak tubuhku. Ada beberapa titik air liur yang kurasakan di wajah. Aku diludahi seekor semut. Semut raksasa. Namun aku tidak menaruh peduli pada air liur bodoh itu karena kini semut itu semakin terlihat garang, matanya membesar seiring tubuhnya membesar. Mulutnya terbuka lebar dan mendekat. Tampak ingin mengunyahku bulat-bulat. Ia tak lagi terlihat semut, melainkan monster yang menginginkanku jadi menu makan pagi.

Aku berlari tunggang langgang. Malang, kakiku terantuk kardus-kardus di lantai. Kepalaku rasanya melayang menuju lantai. Terbentur. Kepalaku pening. Aku menyeret diriku ke sofa, sementara tak kulihat lagi monster semut itu di mana-mana. Kurebahkan diriku. Sepertinya aku akan pingsan.

 

***

            Tujuh jam sebelumnya…

Aku mengepak buku-buku lawas yang kumiliki ke dalam kardus, esok hari akan kutawarkan pada kenalan yang menerima buku bekas untuk dibeli. Meskipun aku berkerja tak henti dari Senin sampai Sabtu, aku masih saja kekurangan uang. Setelah selesai, aku bermaksud menghabiskan kopi yang terletak di atas meja, di sisi sebuah koran lama yang terbuka. Tadi aku sempat membacanya untuk keperluan kerja.

Mataku nanar ketika melihat seekor semut mengambang ketika kopinya sedang kuteguk. Kusemburkan kopi dan menciprati koran.

“Dasar pengganggu!” raungku. Aku tak pernah suka jika seekor semut mengotori minumanku. Maka kutenggelamkan semut itu sekalian karena jengkel. Kuhenyakkan diriku ke atas sofa. Mungkin karena terlampau lelah, kopi tak berhasil menahan kantuk yang datang.

 

***

            Aku terbangun dengan sambutan suara cicit burung. Kepalaku pening. Tersadar sesuatu, aku menyerbu cangkir kopi di atas meja. Ada seekor semut mati di sana. Lalu aku melakukan hal yang menurutku paling konyol dalam hidupku, aku mengangkat bangkai semut itu hati-hati dan kukuburkan di halaman belakang.

Pikiranku berkecamuk kacau. Apakah kedatangan monster semut itu mimpi atau bukan. Apakah aku sempat terbangun setelah tidur semalam atau tidak. Kemudian aku berkesimpulan bahwa itu hanyalah mimpi belaka, kuncinya terletak pada cangkir kopi. Pada mimpi itu aku ingat kalau yang kugunakan adalah cangkir baru. Jika bukan mimpi, seharusnya cangkir semalam masih ada di atas meja. Ah, juga dengan koran yang terciprat itu. Aku lega masih bisa berpikir waras.

Namun ketika kumelihat cermin, keningku memar.

 

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s