Pria Penunggang Kelinci

source: ebay.co.uk
source: ebay.co.uk

 

Seekor kucing liar terkencing-kencing mendengar penuturan manusia kecil penunggang kelinci.

“Kau yakin akan menyelamatkan puteri yang tersekap di kastel?” tanyanya sambil menjilati tulang ikan.

Dunia sungguh lucu! pikirnya dalam hati. Mana mungkin pria yang tingginya tak lebih dari sebatang dandelion itu akan berhasil. Seumur hidupnya tinggal di sini, ia sudah menyaksikan banyak manusia pulang berdarah-darah dengan wajah putus asa yang mengerikan.

“Ya, kami sudah berlatih selama setahun,” jawab pria kecil itu.

Kami? Pffff—apakah pria kecil itu tidak sadar bahwa teman konyolnya itu hanya seekor kelinci? Si kucing berdecak pongah, merasa kasihan kepada mereka berdua. Ia menggeliatkan tubuh. “Kau tidak tahu kalau ratusan kuda berakhir dengan tubuh sepotong?”

“Kami sudah tahu,” jawab si kelinci merasa tersinggung.

Si kucing mengeluarkan suara serdawa yang besar dan menggelegar. Terkekeh-kekeh kemudian. Ah, mereka berdua sebetulnya sudah berapa lama hidup? Mengapa harus mempedulikan seorang puteri jika hidup di padang ilalang tepi sungai saja sudah cukup mengenyangkan? Sungguh mereka mengorbankan nyawa hanya untuk iming-iming satu peti berlian dari raja bertubuh tambun.

Dulu ada dua kerajaan berdampingan yang dipisahkan sungai. Dua kerajaan tersebut sangat akur, selalu saling membantu dalam kesulitan. Hingga pada akhirnya seekor naga buas datang dan menghancurkan salah satu kerajaan. Kerajaan yang tak diserang merasa patut untuk menyelamatkan sang puteri—satu-satunya yang tersisa di kastel itu.

“Aku sering mendengar raungan naga penjaga kastel dari sini. Sungguh menakutkan!” ujar si kucing tak berbohong, ia harap bisa membantu mereka mengurungkan niat. Ia lantas menatap kastel yang terlihat dari kejauhan, menara yang dijagai naga menjulang ngeri dengan tanaman rambat yang menjalar berantakan.

“Tolong tunjukkan kami di mana letak jembatan penyeberang sungai,” pria kecil itu bertanya tanpa mengindahkan peringatan si kucing.

Dengar! Bahkan mencari jembatan saja mereka kebingungan! Si kucing bergulung-gulung dalam kekehan di atas rumput gersang. Setelah itu berdeham-deham dan menunjuk ke arah timur. Pria penunggang kelinci itu berterima kasih dan langsung menuju timur. Si kucing menatap mereka sampai menghilang.

 

***

Pada sebuah pagi yang cerah si kucing terbangun dan mendapatkan berita dari beberapa belalang yang berayun di daun ilalang.

“Puteri sudah terselamatkan! Diselamatkan oleh pria penunggang kelinci!” seru si belalang.

“Hebat! Dia pasti kini kaya raya,” timpal belalang lain.

Si kucing terperangah mendengar kenyataan tersebut, ia tak ingin ikut bercengkrama bersama mereka, ia kembali ke tempat semula untuk merenung. Tiba-tiba terlihat sebuah bungkusan kain. Dengan serta merta ia membukanya dan menemukan tujuh butir berlian.

Ada secarik kertas dengan tulisan amat kecil:

Terima kasih telah menunjukkan kepada kami di mana jembatan penyeberang sungai berada. Kau pasti bertanya-tanya mengapa kami dapat menyelamatkan puteri. Hanya ada satu hal yang bisa kuberi tahu padamu: terkadang kekurangan bisa menjadi kelebihan.

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s