Namanya Oriolle

Leaf (again) from iron-hearted.deviantart.com
Leaf (again) from iron-hearted.deviantart.com

 

Seorang anak lelaki kembali ditinggalkan oleh sang ibu yang sibuk bekerja di meja dengan seorang pembantu tua yang sibuk membersihkan rumah. Rumah ini adalah rumah baru, dua hari lalu mereka pindah ke sini. Rumah tua besar yang menebarkan bau sunyi. Sunyi yang mengendap bertahun-tahun setelah ditinggalkan penghuni terdahulu.

“Aku ingin bermain,” keluhnya. Biasanya Mary akan mengajaknya jalan-jalan atau sekadar mengobrol. Tapi Mary terlihat sangat sibuk.

Mary si pembantu menjawabnya dengan lusinan bersin. Ia baru saja menyerbu debu tebal dengan kemoceng.

“Aku ingin bermain!” Aidan naik ke atas sofa dan melompat-lompat.

“Oh, tidak, Aidan, tidak sekarang,” Mary bergegas menurunkan Aidan dari atas sofa yang baru saja mengedarkan debu-debu karena dilompati.

Aidan merengut dan berlari mendekati ibunya yang memasang wajah berlipat-lipat di antara tumpukan kertas. Ia kembali merengek, mengajak ibunya bermain, namun yang ia dapatkan tak jauh berbeda dengan Mary. Ia disuruh membongkar kotak mainan yang masih berada di bagasi mobil. Menggeleng keras-keras, Aidan tak ingin bermain dengan mainannya. Bosan. Mainan tak pernah membalas ucapannya.

“Bermainlah di pekarangan rumah,” ibunya berkata. “Kemarin ibu lihat ada beberapa buah berry yang matang, kau pasti suka.”

Aidan termenung sebentar dan langsung menghambur ke pekarangan rumah. Maka terbentanglah di hadapannya pekarangan rumah yang luas, dipenuhi rumput yang belum dipangkas. Lalu terlihat di sebelah kanan, ada tanaman-tanaman berry yang sekaligus merupakan batas pekarangan menuju hutan kecil. Penuh dengan pepohonan.

Diambilnya beberapa berry tua yang terlihat menggiurkan, tubuhnya kadang membungkuk. Dan ketika ia membungkuk, matanya bertemu dengan sepasang mata yang sedang mengintipnya dari celah dedaunan berry. Mata yang sangat aneh. Seperti mata kucing.

“AAAAAAAAA!” Aidan berteriak.

Tapi yang diteriaki pun malah ikutan berteriak.

“Siapa kau?” sosok itu bertanya pada Aidan, memetik berry buru-buru. “Ini tanaman milikku,” ucapnya halus, bahkan jika tidak menajamkan pendengaran, suara itu seperti angin yang berembus.

Aidan mematung, baru kali ini ia melihat wujud manusia seperti itu. Mungkin Aidan pernah melihatnya, namun di buku-buku bergambar. Sosok itu adalah anak perempuan, kurang lebih seusianya. Matanya seperti mata kucing, di bagian atas pipinya bertaburan bintik-bintik. Rambutnya merah kecoklatan dan diselipi dedaunan, sedang alisnya berbentuk seperti sekeping kue. Matanya menyorot dingin dan sulit ditebak.

“M-maaf, aku kira tidak ada yang punya,” Aidan menjawab, masih tak bisa berhenti mengamati sosok di hadapannya. “Aku Aidan, penghuni baru di rumah itu,” ia menunjuk. “Siapa namamu?”

“Oriolle,” ucapnya pendek.

Anak perempuan bernama Oriolle itu kembali memetik berry dan memasukkannya ke dalam kantung baju yang hanya berupa lipatan dari balutan-balutan kain panjang yang tak memiliki jahitan. Sangat aneh.

“Di mana rumahmu?” tanya Aidan.

“Di sana,” Oriolle menunjuk pada entah, hanya terlihat barisan pepohonan di sana.

“Ini berry-mu. Aku akan mengembalikannya,” Aidan menyodorkan berry-berry yang sudah dipetik pada Oriolle.

Namun Oriolle menggeleng.

“Untukku?” tanya Aidan tersenyum lebar. Ia berpikir mungkin Oriolle adalah anak perempuan yang baik dan tidak berbahaya. Hanya saja penampilannya agak aneh. “Kau ingin bermain denganku?”

Oriolle mengangguk dan menarik lengan Aidan seketika menuju hutan. Aidan merasa senang ketika diajak berlari ke hutan. Oriolle menyarankannya untuk membuka sendal, dan dirasakannyalah tanah lembab yang dingin di telapak kaki. Ternyata Oriolle sedari tadi tidak memakai sandal. Sesiangan mereka bermain di tepi sungai kecil, dari memanjat pohon kerdil, bermain petak umpet di antara pepohonan, sampai menangkap capung. Aidan seperti menemukan teman baru yang menyenangkan. Meskipun Oriolle tidak banyak bicara dan wajahnya itu tidak banyak berekspresi.

“Kenapa rambutmu dipenuhi dedaunan?”  tanya Aidan sambil memakan berry dan keduanya tengah ongkang-ongkang kaki di sebuah batu besar yang terletak di tengah sungai.

“Ini bando.”

“Oh…” Aidan mengangguk. Ia merasakan percikan air membasahi sebagian kakinya ketika menghantam batu.

“Aku tidak melihat rumahmu,” Aidan celingukan.

“Aku selalu menganggap ini rumahku.”

“Oh…” Aidan mengangguk lagi. Mungkin Oriolle tak ingin diketahui rumahnya secepat ini. “Rambutmu bau kayu!” cetusnya sambil tertawa kecil.

Sore menjelang, matahari condong ke barat, hutan semakin diberisiki serangga. Aidan harus pulang ke rumah. Ini hari yang sangat berkesan baginya. Ia menemukan seorang teman. Oriolle bahkan berjanji akan mengajaknya bermain lagi.

“Aku akan berada di dekat tanaman berry setiap kali kau butuhkan,” kata Oriolle.

Mereka berjalan berdua menuju tempat tanaman berry tadi berada. Aidan akan menceritakan pada ibunya bahwa ia sudah menemukan seorang teman sehingga ibunya tak perlu khawatir akan sering diganggu olehnya lagi ketika bekerja.

“Aidan!” seru ibunya khawatir ketika melihatnya muncul dari hutan. Selama beberapa menit ibunya mencari Aidan yang tak kunjung menunjukkan batang hidung.

Aidan berlari meninggalkan Oriolle dan memeluk ibunya sambil tertawa. “Jangan khawatir, aku baru saja bermain.”

“Bermain di hutan?” tanya ibunya sambil mengelus puncak kepala Aidan.

“Ya, bermain di hutan dengannya.” Aidan menunjuk Oriolle. “Kita baru saja berteman.”

Oriolle kembali memasang tatapan dingin, perlahan-lahan mendekati pohon dan menatap mereka berdua tanpa bersuara.

“Hei!” tegur Aidan, “Jangan bersembunyi di balik pohon, ibuku orang baik.”

Tapi Oriolle tetap bergeming.

Ibunya menatap bergantian. “Siapa namanya?”

“Oriolle,” jawab Aidan. “Dia sepertinya masih malu.” Aidan akhirnya mengucapkan kata perpisahan dan terima kasih pada Oriolle karena telah menemaninya bermain hari ini. Ia mengenggam tangan ibunya dan berjalan menuju rumah.

Ibunya merasa cemas akan Aidan, sesekali melirik ke belakang, sedari tadi ia tak melihat siapa pun di balik pohon.

Ia hanya melihat semak-semak.

 

 

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

7 thoughts on “Namanya Oriolle”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s