Percakapan Saat Hujan

source: camille-engel.com
source: camille-engel.com

Setelah sekian lama, akhirnya hujan kembali turun. Dari jendela, seorang anak perempuan, seekor kelinci dan seekor burung menikmatinya diam-diam. Sampai si anak perempuan memulai pembicaraan.

“Aku masih berpikir kalau kau sangat jahat,” kata anak perempuan itu pada si kelinci.

“Ayahmu yang duluan jahat, mereka merebus ibuku,” jawab si kelinci kalem.

“Tapi kau seharusnya makan rumput atau wortel! Kenapa kau membunuh ayahku dan merebusnya juga lalu dimakan?”

“Aku tidak membunuhnya, dia jatuh laluΒ  kepalanya terbentur batu. Sudah berulang kali kukatakan. Lagipula, aku juga suka daging, kok. Selalu ada pengecualian di dunia ini.”

Mereka berbicara tanpa saling menatap, seakan hujan adalah pemain opera unggulan yang selalu dinantikan.

“Ssst, aku suka mendengar suara hujan. Kalian jangan berisik,” larang si burung yang bertengger di bibir cangkir kosong.

“Aku lapar, tak ada persediaan makanan,” keluh si anak perempuan tanpa mempedulikan larangan si burung. “Bolehkah aku merebusmu?” tanyanya, untuk kali ini melirik si kelinci.

“Tentu saja tidak boleh,” jawab si kelinci lugas, seolah menjawab pertanyaan yang biasa. “Aku sudah merawatmu sampai sebesar ini dan kutahan-tahan pula untuk tidak merebusmu.”

“Hmmm,” anak perempuan itu menghempaskan napas bernada kecewa.

“Aku juga lapar,” terang si kelinci.

“Kau ingin merebusku?” si anak perempuan menduga sambil memicingkan mata.

“Tidak, kau sudah seperti anakku.”

Lalu si perempuan dan kelinci terdiam beberapa detik sebelum keduanya menatap si burung yang memandangi hujan. Si burung kecil itu menyadari mereka menatapnya dan langsung terkejut, “Kalian ingin merebusku?”

Anak perempuan itu menatap si kelinci lagi.

“Tidak, sia-sia merebusmu. Dagingmu sedikit,” kata si kelinci.

“Ya, lagi pula aku menyukai suaramu,” tambah si perempuan.

Hujan masih turun, mereka berharap hujan bisa berlangsung lama, sampai menghapus jejak kekeringan yang melanda desa mereka. Sampai mereka bisa menanam beberapa tanaman dan sayur-mayur untuk makan.

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

4 thoughts on “Percakapan Saat Hujan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s