Istri Gelap

(c) Mr. Calbeaza Ciprian
(c) Mr. Calbeaza Ciprian

Pagi-pagi aku sudah ingin melemparkan cangkir ke kepalanya karena lagi-lagi, dengan wajah tanpa dosa, ia memanggilku dengan sebutan Istri Gelap. Meskipun itu kenyataan. Dan biarpun begitu, aku kadung mencintainya. Ia menyeka bibirnya sembarangan dengan punggung tangan dan aku mengedutkan bibir. Panggilan Istri Gelap tak pernah membuatku senang, aku heran sekali pada ketidakkhawatirannya. Mungkin saja kan, aku bakal marah dan memutuskan untuk meninggalkannya.

“Jangan cemberut, meskipun kau Istri Gelap, aku mencintaimu.”

Aku membuat gestur meludah dan kembali cemberut. Lelaki itu tak pernah merasa tidak enak, sepertinya. Kubenarkan dasinya yang miring dan menepuk dadanya dengan keras, menyuruhnya cepat pergi bekerja. Ketika sosoknya tak lagi kulihat, aku beringsut ke kamar dan menatap diriku sendiri.

Kuraih handphone, lalu aku langsung berbicara ketika temanku mengangkat panggilanku. “Gila, Ndra. Ide kamu biar kulit kita jadi hitam eksotis itu buruk banget. Suamiku terus-terusan mengejekku dengan panggilan Istri Gelap!” semburku dengan nada kesal. Andra, temanku itu lah yang punya ide untuk berjemur di pantai sampai kulit jadi menghitam. Dan bodohnya aku setuju saja, padahal ternyata suamiku tidak suka jika kulitku jadi gelap.

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s