Scene Romantis

Selain pemandangan yang membuat sedih kamarin, saya akan menuliskan pemandangan romantis yang pernah ditangkap mata saya, dan kadang-kadang pemandangan itu masih berseliweran di kepala sampai sekarang. Kali ini juga bukan dari adegan film betapa mesranya cinta seorang manusia dan vampir, misalnya, atau dari dua orang yang saya kenal dekat. Lagi-lagi orang asing yang cuma saya lihat beberapa detik.

Alkisah saya sedang berada dalam bis yang melaju. Hujan turun begitu lebat. AC dan hujan seakan-akan berlomba siapa yang bakal menang lebih dingin. Saya duduk dekat jendela yang agak buram karena kacanya diguyur hujan. Dan seperti kata-kata klise yang pernah kita dengar, hujan seolah membuat saya lebih melankolis waktu itu. Atau karena saya pasrah nanti turun dari bis pasti kehujanan. Dan tiba-tiba, pemandangan romantis yang ada di balik jendela singgah sekejap ke mata saya!

Di balik kaca yang masih melelehkan air hujan, saya melihat dua pasang renta menyebrangi selokan di pinggir jalan. Di belakang mereka, di balik pepohonan yang tak begitu rapat, terbentang sawah. Mereka mengenakan tudung segitiga yang terbuat dari bambu, sang nenek mengenakan kebaya yang saya lupa detailnya, dan sang kakek mengenakan kaus oblong alakadarnya. Di salah satu tangan mereka tergenggam semacam alat berkebun (saya lupa).

Sang kakek menyebrang terlebih dahulu dan adegan yang paling romantis dari pemandangan romatis ini pun dimulai. Ia menjulurkan tangannya untuk membantu sang nenek menyebrang. And I was like, “Aaaaa!”. Sayangnya bis yang saya tumpangi tidak setuju untuk membiarkan saya terus-terusan melihat mereka, sampai-sampai leher saya pun berputar agar bisa melihat mereka sedikit lebih lama lagi.

 

Saya takkan sebegitunya ketika melihat sepasang muda-mudi berlarian bergenggaman tangan di pinggir jalan ketika hujan. Apalagi kalau mereka ternyata belum menikah. Saya takkan melihat itu sebagai sesuatu yang romantis. Berbeda dengan sepasang kakek-nenek yang sudah hidup lama bersama, meskipun mungkin menurut orang lain biasa-biasa saja melihat sang kakek menjulurkan tangan untuk membantu sang nenek (kan memang harusnya membantu! mungkin seperti itu komentarnya).

Ah, entahlah. Pokoknya itu adalah scene paling romantis yang pernah saya lihat, melebihi scene-scene romantis yang berserakan di film sekarang. Hm, saya juga agak curiga hujan sedikit mempengaruhi saya sih…


Hari ketiga memenuhi ajakan #NulisRandom2015 yang diadakan @nulisbuku

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s