Berhenti Jadi Penyihir

“Bu, aku ingin berhenti jadi penyihir,” gerutu Niyam sambil melemparkan sapu terbangnya ke sudut ruang tamu. Lalu ia mengempaskan dirinya ke sofa berwarna pudar dan menyilangkan kedua tangannya. Wajahnya merengut.

“Kau salah makan, Nak?” ibunya bertanya keheranan.

“Pokoknya aku ingin berhenti jadi penyihir!” pekiknya. “Tidak enak jadi penyihir, pekerjaannya tidak ada yang keren. Ke mana-mana pun pakai sapu butut. Pakai pesawat mobil atau pesawat gitu lho, yang keren.”

Ibunya senyum-senyum saja, memaklumi bahwa Niyam adalah remaja perempuan yang keinginannya masih suka macam-macam dan nyeleneh.

“Aku serius, Bu.”

“Kamu tak tahu memangnya kalau orang-orang biasa bahkan ingin menjadi penyihir? Lihat tuh, betapa lakunya film Harry Potter.”

“Ih, Ibu. Itu kan Harry Potter! Memang keren, tapi cuma film. Kenyataannya dunia sihir tak seperti itu. Ibu lihat sendiri bagaimana kita.” Niyam menghela napas. Ibunya menghela napas lebih panjang lagi. Mereka adalah satu dari sekian keluarga penyihir yang tersisa di pinggiran sebuah kota di Indonesia. Niyam melihat ketel yang bergerak sendiri dengan kesal, isinya pasti hanya umbi-umbian dan satu-dua lembar daun pandan lagi.

“Ya sudah, semaumu saja,” kata ibunya. Ia tahu Niyam tetaplah penyihir karena darah penyihir mengalir di tubuhnya, dan tak ada yang bisa menghapus kenyataan itu. Esok mungkin Niyam akan kembali seperti semula dan melupakan sama sekali apa yang telah dikatakannya.

Mendengar komentar ibunya, Niyam menggoreskan senyum di wajah. Sebenarnya ia juga tak tahu bagaimana caranya berhenti jadi penyihir. Tapi ia merasa senang. Ia melompat ke kamarnya. Dari kolong meja, ia mengeluarkan sebuah handphone yang ia curi dari sebuah toko. Ia sudah tahu bagaimana cara menggunakannya karena sesekali ia dan ibunya melebur bersama orang-orang yang tak memiliki kekuatan sihir. Dalam tiga bulan belakangan ini, ia sudah mengintip berbagai aktivitas modern orang biasa berkat pelepah pisang yang bisa membuatnya tak terlihat (ya, bukan jubah gaib macam di film yang hanya khayalan itu).

Ia membuka akun facebook miliknya, yang sudah berisi beberapa teman, hasil meng-add secara acak. Lalu ditulisnya sebuah status:

Hore! Aku sudah berhenti menjadi penyihir! Aku akan menjadi orang biasa seperti kalian!

Beberapa menit kemudian, komentar-komentar orang tertulis di bawah statusnya:

Wong gendheng!

Oalah, beneran tho ada penyihir di sini! Bakar, bakar! Mereka berbahaya! Lapor polisi!

             Polisi abis keles diabrakadabra -__-

             Betul itu! Bakar saja terus jadiin sate!

                        Kok kamu gitu sih, Mas? Aku tak percaya kamu anarkis! Kita

                       putus!

Hax hax hax, leh jg bcAnda qmu.


Hari ke-9 #NulisRandom2015 yang diadakan @nulisbuku

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s