Mendapat Ide

“Wahai rumput bergoyang, aku kehilangan ide,” keluh seorang anak perempuan yang duduk dekat rerumputan kerdil yang tingginya tak melebihi mata kaki.

“Memang sebelumnya kau taruh di mana?” tanya sang rumput.

“U-UWAAAAAAAH R-RUMPUTNYAAAA!” teriak si anak perempuan sambil menunjuk-nunjuk, terkejut ternyata rumput benar-benar bisa bicara.

“Sshhh… telingaku berdenging rasanya.”

“Uhm, baiklah.” Anak perempuan itu mencoba menelan apa yang dilihatnya. Rumput yang bisa bicara namun tak nampak bibir apalagi telinganya. “Sebenarnya aku tak kehilangan ide, aku tak punya ide.” Lalu bercerocoslah ia bahwa seorang guru menugaskannya untuk menulis apa saja selama tiga puluh hari. Dan kali ini ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ditulis. Seolah semua kata-kata melarikan diri dari otaknya.

“Ini bahkan baru hari kesepuluh. Bagaimana biasanya kau menulis?”

“Dengan alat tulis. Maksudku, aku menulis saja yang terlintas di pikiranku saat itu.”

“Dan sekarang kau harus menulis apa yang terlintas di pikiranmu saat ini.”

“Solusi yang menarik tapi tak berlaku untukku sekarang ini,” kata si anak perempuan. Tahu tidak sih jika kepalanya kini bagaikan tersumbat?

“Sebetulnya bahan-bahan ide bertebaran di mana-mana, hanya saja kau harus mengumpulkan mereka lalu merangkainya.”

Si anak perempuan tidak berpikir itu kalimat yang bagus untuk memancingnya memunculkan ide, karena merangkai bahan-bahan ide itulah yang menjadi permasalahannnya sekarang. Tentu saja ia bisa merasakan angin, melihat pohon, atau menginjak bebatuan. Tapi ia sedang tidak bisa menyatukan mereka semua menjadi sebuah tulisan.

“Bagaimana kalau kau tuliskan soal rumput bergoyang yang bisa bicara? Menuliskan soal kau dan aku sekarang,” rumput itu menawarkan.

“Aha! Kau betul juga!” sahut anak perempuan itu gembira. “Apakah kau sebetulnya memiliki otak?”

“Tidak, tapi aku bisa berpikir.”

“Hm… seperti kau bisa bicara tapi tak memiliki mulut.”

“Dan ada satu syarat supaya kau boleh menuliskannya.”

“Apa itu?”

“Buat seolah-olah ini fiksi. Tak ada yang benar-benar tahu rumput bisa bicara. Ini rahasia kita saja.”

Anak perempuan itu tersenyum lebar, “Kau harus percaya aku adalah penjaga rahasia yang baik.” Ia menyambar sebuah pena dan buku dari tas, lalu menuliskannya saat itu juga.

_______
Hari ke-10 #NulisRandom2015 yang diadakan @nulisbuku

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s