Scene on Three (13)

Proses kerjanya biasanya begini: Ia menciptakan sejumlah tokoh utama yang tidak bisa akur satu sama lain padahal mereka bersaudara atau bertetangga atau menyewa rumah bersama. Beberapa dari mereka juga jatuh cinta, tapi selalu dengan orang yang salah. Semua tokoh utama ini lalu diberi masalah, yang membuat hidup mereka yang kurang mulus menjadi semakin kacau. Inti sinetron seperti itu adalah bagaimana tokoh utama, ditambah para pemeran pembantu, berupaya agar tidak terjadi hura-hura, vandalisme, maupun pembunuhan massal. Dan percaya atau tidak: justru tontonan seperti itu yang diinginkan orang-orang. Semua sinetron selalu meraih peringkat tinggi.

Diambil dari Petualangan si Kembar Tiga karya Burkhard Spinnen. Aku adalah Paul yang dalam scene tersebut menggambarkan pekerjaan ayahnya sebagai penulis skenario. Walaupun agak lebay (karena si aku memang sering bertutur secara lebay juga di bukunya), tapi ternyata sinetron sama saja ya. Mungkin perlu ditambahkan ‘dengan iringan musik yang tak santai’.

Dan benar juga, bahwa sinetron masih menjadi primadona tersendiri di kalangan penonton televisi dan melibas tontonan lain dengan rating tinggi. Saya sendiri dulu cukup menggemari sinetron dan tak mempermasalahkan mengapa seseorang yang bakal tertabrak malah berbalik secara dramatis dan terkejut melihat truk tanpa menggerakkan kakinya untuk minggir padahal saya yakin saya melihat truk itu masih cukup jauh jaraknya. Sekarang saya bukan penggemar sinetron karena ketika nonton, kepala saya sibuk protes. Tapi tak semua sinetron sebegitunya sih… saya berharap sinetron nggak cuman mendambakan rating doang. Ini khusus untuk sinetron Indonesia kebanyakan sih: tolong akhiri sinetron itu kalau memang ceritanya sudah pantas untuk diakhiri. Intinya jangan dipanjang-panjangin :mrgreen:


Mau ikutan Scene on Three? Silakan klik gambar di bawah dan lihat ketentuannya.

scene-on-three

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

2 thoughts on “Scene on Three (13)”

  1. Hahaa.. iyaa, dulu aku menikmati sinetron sebelum kepalaku mulai sering protes. Sekarang, liat iklan aja protes terus. Amannya memang ga nonton tv sih (terutama tv Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s