Serbuan di Waktu Fajar

(c) Adu, Iswanto
(c) Adu, Iswanto

“Ayam-ayam tak tahu adat. Tidak malam, tidak pagi, berkokok selalu kerjaannya!” Sarmin berteriak di bawah bantal.

Sarmin kelelahan, ia sedang mencoba  tidur ketika malam mulai menggeliat. Seharian ia sibuk mengadu-adukan ayam bangkok miliknya. Kampung yang ia tinggali adalah kampung di mana judi sabung ayam merajalela. Jumlah ayam jago yang ada di kampung itu jauh lebih banyak daripada jumlah manusia. Sarmin adalah rajanya judi ayam.  Malam ini semua ayam yang ada di kampung itu serentak berkokok dan mengganggu.

“Seret saja dia,” ujar seseorang setelah terdengar suara pintu kamarnya dibuka paksa.

Sarmin merasa seperti ada di alam mimpi dan menganggap suara-suara itu berasal dari mimpinya sebab kokokan ayam sudah tak terdengar lagi. Namun tangan yang terasa aneh dan kasar mencengkeram kakinya dan menariknya dari ranjang secara cepat. Kepala Sarmin terbentur lantai. Memar. Ia terbangun dan menemukan dua makhluk besar berkaki dua berbulu dan berparuh. Dua ayam setinggi manusia. Sarmin bisa mengenal kedua ayam itu, ayamnya dan ayam Jarwo yang dikalahkannya. Mereka bernama Bilung dan Randuk. Ia berteriak dan mau kabur, tapi kedua ayam itu menangkapnya bagaikan menangkap ayam.

Diseretlah Sarmin ke lapangan penuh obor. Di sana ratusan ayam berkeliling dan tampak seru berbisik-bisik. Di tengah lapangan, telah ada Jarwo yang sama ketakutannya.

“Adukan mereka! Adukan mereka!” Ayam-ayam bersorak.

Tubuh Sarmin dan Jarwo bergetar melihat ayam-ayam seluruh kampung menjadi besar dan tampak akan melakukan balas dendam. Mereka dipaksa berkelahi dan mereka melakukannya seperti ayam yang pernah mereka adu. Tanah kering lapangan menguarkan bau ketika mereka bergulung-gulung. Ketika tubuh mereka telah lebam dan berdarah, mereka merasa tak bisa lagi melanjutkannya. Jika tidak, mereka akan mati. Maka dengan sisa tenaga, Sarmin melolongkan permintaan dengan pedih.

Ayam-ayam itu mengabulkannya. Sarmin dan Jarwo disuruh pulang dan harus menepati janji mereka untuk tidak melakukan sabung ayam lagi.

“Sedikit pun melanggar, kalian akan tahu akibatnya!” seru Bilung lalu disambut sorakan seluruh ayam.

***

Ketika bangun, Sarmin masih merasakan kengerian di sekujur tubuhnya yang pegal seakan memang habis diadu. Ia terkekeh. Ternyata memang mimpi. Di balik jendelanya, dunia masih gelap. Jam weker menunjuk angka empat.

“Gila. Aku tak harus menepati janji yang terikrar di dalam mimpi,” gumamnya sambil melemparkan kembali dirinya ke atas ranjang.

Tiba-tiba gemuruh terdengar, semakin lama semakin gaduh. Tanpa ia duga, ratusan ayam berlari ke arah rumahnya. Ayam-ayam biasa. Tapi nampak brutal semuanya. Mereka berkokok. Rumah-rumah warga yang lain telah diserang ayam-ayam itu dengan penghuni pria yang kebanyakan tergeletak karena kewalahan menghadapi sabetan dan patukan ayam. Sarmin membuka pintu untuk mencari tahu dan seketika itu pula rumahnya dikuasai. Rumahnya diserbu ayam di waktu fajar yang telah lama sekali sepi dari azan subuh. Barang-barangnya dijungkir-balikkan. Pajangannya dipecah-pecahkan. Lalu tubuhnya diserang secara serempak.

Sarmin hendak meminta permohonan lagi. Tetapi sebagian kesempatan hanya terjadi sekali.


Hari ke-16 #NulisRandom2015 yang diadakan @nulisbuku

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s