Jarak

Pria penyair itu bertanya dari mana asalku, kemudian terdengarlah tawa cukup keras ketika kutudingkan telunjukku ke langit. Sore itu dia datang ke hutan untuk mencari kata-kata, katanya. Dan bertemu denganku yang sedang bertengger di dahan pohon setelah kelelahan menebarkan bubuk penumbuh ke seluruh penjuru hutan. Kami berbicara cukup banyak, duduk di atas batu besar. Aku bahkan memberitahunya bahwa aku akan kembali lagi ke hutan itu setiap tujuh malam setelah langit memamerkan bulan paling bulat. Namun dia hanya tersenyum-senyum seakan aku sedang bercanda.

Tentu saja aku tidak bercanda.

Sore itu dia pulang lebih dahulu, kutatap punggungnya menghilang sampai kuputuskan untuk mengeluarkan sayap dari punggungku dan melesat ke langit. Pulang. Setiap malam kusempatkan mengintip ke bumi, ke sebuah jendela dengan gorden terbuka. Tampak di sana seorang pria tengah setengah menunduk menuliskan kata-kata. Pria penyair itu. Malam berganti malam, kuperhatikan dia dari langit dan akhirnya kutahu bahwa kesukaannya adalah menulis dengan ditemani secangkir kopi hitam. Senyumku masih terpatri setiap malam, menunggu waktu di mana aku bisa kembali ke bumi. Sampai akhirnya aku tak lagi ditugaskan untuk menebarkan bubuk penumbuh di hutan itu.

William, aku kini ditugaskan untuk menyematkan bintang di langit. Seandainya kau tahu.

William, nama pria itu.

 

Bersambung…

_________
Hari ke-20 #NulisRandom2015 yang diadakan @nulisbuku

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s