Scene on Three (14)

Meski demikian, menjadi seorang pembunuh ternyata harus membiasakan diri. Aku tidak tahan berada di rumah. Jadi aku mengeluyur keluar ke jalanan. Aku tidak tahan berada di satu ruas jalan, maka aku mengambil jalan lain, lalu jalan lainnya lagi. Ketika aku menatap wajah orang-orang, aku sadar bahwa sebagian besar mereka merasa yakin bahwa mereka tidak bersalah, karena mereka belum pernah memiliki kesempatan untuk menghilangkan nyawa orang. Sulit dipercaya bahwa sebagian besar orang memiliki moral lebih tinggi, atau lebih baik dariku, hanya karena satu tikungan nasib.

Diambil dari novel My Name is Red karya Orhan Pamuk. Scene itu dari sudut pandang seorang pembunuh. Menarik, karena kadang saya juga bertanya-tanya apakah si Fulan bakal tetap berbudi baik apabila ditimpakan padanya nasib yang sama dengan nasib si Fulin, apakah si Fulen bakal tetap jadi bejat apabila ditimpakan padanya nasib yang sama dengan nasib si Fulon. Intinya seperti itu deh 😀


Mau ikutan Scene on Three? Silakan klik gambar di bawah dan lihat ketentuannya.

scene-on-three

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

2 thoughts on “Scene on Three (14)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s