Monyong

Waktu yang disebut pagi datang lagi. Matahari terbangun dan menggeliat. Tapi tidak dengan lelaki berambut gondrong yang selalu kusukai itu. Aku tersenyum memandang wajahnya yang masih tidur. Ah! Bagaimanapun aku harus membangunkannya agar ia tak telat pergi bekerja! Meskipun aku selalu tak ingin menganggunya dari tidur, meskipun ketika bangun akan ada gerutuan jengkel darinya. Tapi kemarin ia sudah menyuruhku untuk membangunkannya, jadi aku tak harus merasa bersalah. Aku menggelitik telapak kakinya berulang kali agar ia terbangun dan akhirnya berhasil. Seperti biasa, aku mendengar gerutuan, tapi akhirnya ia tersenyum dan berterima kasih padaku.

“Terima kasih,” ia memamerkan deretan giginya padaku dan menepuk kepalaku dengan lembut. “Pagi ini kau terlihat sangat cantik dan menggemaskan, meskipun mulutmu¬†selalu… hm… monyong.”

“Uh!” Aku kesal dan ingin mengambek.

Lelaki itu hanya terkekeh dan pergi ke kamar mandi. Aku cemberut dan mulai lagi menyalahkan nasib.

“Cieee, yang bibirnya selalu monyong.”

Aku mendengar suara menjengkelkan itu, suara binatang peliharaan lain yang dimiliki lelaki itu selain diriku. Empus si kucing sedang malas-malasan di dekat semangkuk whiskas.

“Diam, kamu, kucing jelek!” aku menyalak padanya

“Tapi mulut kucing tak semonyong mulut anjing,” ia mengejek.

Aku menyalak lagi dan marah-marah.


Hari ke-26 #NulisRandom2015 yang diadakan @nulisbuku

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s