Reinkarnasi (Bag. 2)

Cerita sebelumnya: Reinkarnasi (Bag. 1)

Aku adalah penyebab tangannya buntung? Meskipun aku percaya itu hanyalah akal-akalan dan mengada-ada, tapi aku meneguk ludah. Terkejut. Kupikir itu tidak lagi lucu. Aku heran dari mana perempuan itu tiba-tiba mendapatkan ide untuk menggangguku, mengatakan padaku bahwa dahulu dia adalah capung, kemudian mengalami reinkarnasi menjadi manusia berlengan sepotong gara-gara aku. Setahuku dari film, reinkarnasi mengubahmu menjadi sosok yang benar-benar baru. Aku bisa menebak-nebak logika yang ditawarkan perempuan itu; bahwa dulu aku pernah mematahkan kaki seekor capung atau semacam itu.

“Kau mematahkan sayapku,” ujarnya halus namun penuh penekanan. Seakan-akan mengetahui apa yang kupikirkan.

Aku menoleh ke arahnya sebentar. Tak menjawab. Saat ini aku ingin bus yang kutunggu segera datang, namun hal itu tak terjadi. Aku menatap sisi jalanan yang diterpa panas matahari dan membiarkan pandanganku diserap olehnya. Bayangan aku yang berlari mengejar capung di masa kecil kemudian mampir ke dalam benak. Aku pernah menangkap seekor capung yang cantik dan betapa bahagianya aku saat itu, aku mengikat bokong capung itu dengan tali rafia yang masih kuingat warna merahnya dan menalikannya pada pagar kawat. Aku tertawa-tawa senang saat itu, melihat capung yang berusaha terbang. Aku pun memainkan capung itu sampai sayapnya yang rapuh sobek dan sebagian menjadi serpihan…

Ada dorongan dalam diriku untuk kembali menoleh pada si perempuan. Meskipun rasanya aku ingin menjelaskan pada diriku sendiri bahwa tak ada sangkut-pautnya ingatan itu dengan dongeng konyol yang dikarang orang tak dikenal ini.

“Kau sudah ingat?” perempuan itu tersenyum.

Aku terlonjak karena kaget, di antaranya karena suara klakson bus yang datang. Bus yang kutunggu-tunggu. Aku melihatnya dan teralih perhatiannya sejenak. Kembali, aku menoleh pada si perempuan. Namun dalam sekejap ia berubah menjadi puluhan capung dan terbang ke berbagai arah, menghilang. Aku melongo.

“Maaf,” kusempatkan berkata demikian dengan ketakutan yang masih menempel di pungungku sebelum bangkit dan menghampiri bus untuk menaikinya.


Hari ke-27 #NulisRandom2015 yang diadakan @nulisbuku

Dikhususkan untuk seekor capung yang pernah kuperlakukan kayak di cerita ini, sungguh-sungguh maaf!

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s