Singkong Rebus

“Bu, aku lapar,” rengek seorang anak kecil pada ibunya. Tubuhnya kurus seperti bunga layu.

“Shhh, sebentar ya, Nak. Nasinya belum matang.” Sang ibu merangkul anaknya dan mengeloninya.

“Kenapa lama sekali?”

Ibunya tak menjawab. Ia menepuk-nepuk kepala anaknya. Di dapur yang hanya terpisah satu sekat bilik bambu, sebuah panci duduk di atas tungku yang menyala. Ia menarik napas dan mencoba mengeluarkan kesedihan yang menggumpal di dalam dirinya. Entah sampai kapan ia akan berbohong pada anaknya bahwa yang ada di dalam panci itu adalah beras yang sedang dimasak, karena pada kenyataannya, isinya hanyalah bebatuan.

“Sebaiknya kau tidur dulu, nanti tahu-tahu nasi sudah masak,” bujuk sang ibu.

Ayahnya yang baru saja pulang dan lagi-lagi tak mendapatkan apa-apa untuk diberikan kepada keluarganya diam-diam mendengarkan dan menangis setelah mencari tahu apa isi di dalam panci. Ia merasa bersalah telah membuat mereka berdua kelaparan, tersebab dialah sang kepala keluarga. Dilihatnya kini anaknya tertidur. Maka setelah berbicara pelan pada istrinya untuk tidak khawatir, ia pergi lagi untuk mencari yang bisa dimakan.

***

“Bukankah tadi ibu memasak nasi? Kenapa jadi singkong?” tanya anaknya keheranan namun sambil lahap memakan singkong rebus.

“Sudahlah, mungkin ibu salah ucap,” Sang ayah mengelus rambutnya. “Enak, kan, singkongnya?”

“Enak!” seru sang anak dengan cengiran lebar. Kemudian ia melihat ibunya yang sedari tadi berkaca-kaca dan tampak menahan tangis. “Kenapa ibu menangis?”

“Ibu terharu melihatmu semakin tumbuh besar,” ujar ibunya.

“Dan ayah juga, kenapa wajah ayah memar?”

“Tak apa, tak usah khawatir,” kata ayahnya tersenyum.

Sampai besar pun anak itu tak tahu bahwa singkong rebus yang ia makan kala itu merupakan singkong yang dicuri ayahnya secara terpaksa dari kebun orang lain kemudian ketahuan warga dan dipukuli sampai lebam. Meski pada akhirnya ayahnya dibebaskan setelah ia memohon ampun dan menceritakan bahwa anaknya kelaparan.


Hari ke-28 #NulisRandom2015 yang diadakan @nulisbuku

Karena nggak ada ide, jadi saya menulis ulang cerita yang dulu diceritakan ibu saya ketika saya rewel. Nggat tau beliau dapet dari mana :mrgreen:

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s