Scene on Three (15)

Aku bersyukur pada Allah bahwa aku, sebatang pohon sederhana di hadapanmu, belum pernah dilukis dengan ketekunan seperti itu. Bukan karena jika aku digambarkan seperti itu, semua anjing di Istanbul akan mengira aku adalah sebatang pohon sungguhan dan mengencingiku, melainkan karena aku tidak ingin menjadi sebatang pohon, aku hanya ingin menjadi maknanya.

Masih diambil dari novel My Name is Red karya Orhan Pamuk. Salah satu yang menarik dari buku ini yaitu menggunakan banyak sudut pandang, termasuk sebatang pohon, tepatnya lukisan sebatang pohon. Wah, dengan ide menjadikan pohon sebagai sudut pandang saja sudah membuat saya suka. Apalagi ketika di akhir bab saya menemukan tulisan yang saya kutip itu. Sebatang pohon merasa bersyukur ia tidak dilukis dengan amat menyerupai pohon asli karena yang ia inginkan bukanlah menjadi sebatang pohon sungguhan, melainkan maknanya. Sweet, ya. Yah, mungkin mirip-mirip dengan tak perlu menjadi matahari untuk menjadi penerang orang lain, atau tak perlu menunggu kaya untuk menjadi seorang dermawan, dan lain-lain.


Mau ikutan Scene on Three? Silakan klik gambar di bawah dan lihat ketentuannya.

scene-on-three

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

4 thoughts on “Scene on Three (15)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s