Hujan Bulan Juni

hujan bulan juni
source: collective-evolution.com

“Hai, maukah kau hujan-hujanan denganku jika hujan telah reda?”

Aku menoleh pada seorang perempuan berambut amat kelam yang menyapaku dengan cara yang sangat aneh. Saat itu bulan Juni. Aku baru saja menepuk-nepuk bajuku yang kebasahan setelah berlarian dan akhirnya berlindung di bawah pohon besar yang telah dipakai perempuan itu untuk berlindung juga. Cengiran kuulaskan padanya. Memikirkan betapa sialnya hariku saat itu lebih menarik ketimbang memikirkan ucapan ganjil seorang perempuan yang tak kukenal.

Dari ekor mataku, aku bisa merasakan perempuan itu masih memperhatikanku, seakan masih berharap aku akan menerima tawarannya. Hujan-hujanan setelah reda? Aku seorang lelaki dengan akal yang masih sehat. Aku berlagak tidak menyadari tatapannya dan menatap lurus ke depan, menembus tetesan hujan yang deras berjatuhan, sambil merutuk dalam hati kapan hujan akan berhenti.

“Tidak mau?” tanyanya. Kepalanya sedikit dimiringkan untuk lebih mudah melihatku. Kulihat rambut kelam itu menjuntai dari sisi wajahnya seperti gorden langit malam.

“Hahahahaha,” aku terbahak, entah karena menganggap kejadian itu lucu, entah karena menertawakan kepandiranku yang tak tahu harus menjawab apa.

***

Saat ini bulan Desember. Langit kembali gampang menangis. Aku berada di bawah pohon yang sama. Hanya saja, tak ada perempuan itu. Sebetulnya aku tak mau mengakui bahwa di banyak malam, perempuan itu berhasil menyusup ke dalam mimpi-mimpiku. Bahkan di siang hari ketika matahari menciptakan bayang-bayang, kerap kali salah satunya menjelma perempuan itu. Dan suaranya, melintas-lintas di kepalaku seperti bait nyanyian yang tak sengaja terhapal.

Diam-diam, dalam hati aku menginginkan perempuan itu ada di sini, berteduh, dan mengucapkan pertanyaan aneh itu lagi.

Entah, tapi hujan mengabulkanku. Dari kejauhan seorang berlari dan berteduh tepat di sampingku. Rambutnya kelam, meski lebih pendek daripada waktu itu. ia tersenyum sekilas kepadaku seakan dulu kami tak pernah bertemu. Ada perbedaan yang dikuarkan olehnya. Meskipun begitu, dorongan untuk berbicara padanya sangat besar hingga aku tak bisa lagi hanya diam.

“Hai, maukah kau hujan-hujanan denganku jika hujan telah reda?” aku bertanya, sengaja agar perempuan itu ingat padaku.

Perempuan itu menoleh, bola matanya membesar, lalu berseru, “Kau kenal Juni? Saudari kembarku?”

Kekecewaan secara jelas melintasi wajahku. Ternyata bukan perempuan yang sama. Perempuan yang mengaku bernama Jena itu berbicara dengan sedih ketika kutanyakan bagaimana kabar Juni. Aku, tiba-tiba merasakan kesedihan yang lebih dari sekadar kesedihan. Seakan ada yang pecah di dalam dadaku hingga aku hanya mematung. Perempuan itu bertutur bahwa Jena telah meninggal karena kecelakaan di akhir bulan Juni. Dan ia memang sering bertanya seperti itu ketika hujan datang, katanya iseng saja; Maukah kau hujan-hujanan denganku jika hujan telah reda?

Rasa sesal menyesaki dada, apalagi ketika kubayangkan kami berdua benar-benar pernah hujan-hujanan tanpa sentuhan air hujan.

Aku kehilangan Juni di bulan Juni sebelum kutahu namanya.


Credit judul: Sapardi Djoko Damono

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

5 thoughts on “Hujan Bulan Juni”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s