Bersekongkol dengan Cakrawala

(c) Federico Bebber
(c) Federico Bebber

Ketika aku membuka pintu, ada sebuah surat tergeletak di dekat keset dan pot bunga yang retak. Tak perlu lagi otakku bertanya-tanya siapa pengirimnya.

Jena, aku sungguh membencimu. Bagaimana mungkin kau selalu hadir di cakrawala dan menghantuiku. Awalnya aku tak ingin lagi berurusan denganmu, tapi aku tak kuasa untuk menulis surat ini. Aku membencimu dan kau membenciku. Sebaiknya kita lupakan bahwa kita pernah bertemu di sore hari ketika topimu dipatuk bangau. Tuh, kan! Mengapa aku malah mengingat-ingatnya lagi. Tuhan, betapa aku membencimu. Ya, aku membencimu. Surat ini adalah surat kebencian, bukan surat cinta yang pernah kutulis dengan hiasan bunga norak berwarna merah muda itu (setelah menulis surat ini, aku akan langsung melupakan bahwa aku telah menulis surat untukmu). Bulan depan aku akan menikah dan aku tidak mengundangmu.

Berhenti bersekongkol dengan cakrawala untuk menggangguku.

Tinggalkan aku. Lupakan aku. Jangan hantui aku. Jangan hantui aku.

Seketika semburan tawa mengalir deras dari mulutku. Aku memegangi perut bahkan sampai mengusap air mata. Lihatlah betapa dungu kalimat-kalimat yang tertera dalam surat itu. Oh, tak ada bandingnya. Seperti ditulis orang yang sudah gila. Kulesakkan kedua kakiku pada sandal dan mengunci rumah kontrakanku dengan sekali putar. Di tikungan kedua, aku melebur menjadi lilitan udara dan naik ke cakrawala.

“Timur…” aku berbisik lewat angin dan mengantarkannya pada telinga seorang lelaki yang sedang berada di atas motornya pada kemacetan lampu merah. Lelaki itu  bernama Timur, pengirim surat tadi. Ia mendongak dengan ekspresi yang patut ditertawakan, melihat ke arahku. Aku sudah berbaur menjadi awan, kubiarkan sepenggal wajahku terlukis dan menghantuinya. Dari bawah, kudengar klakson berbunyi sahut menyahut karena Timur tetap melongo melihatku ketika warna lampu lalu lintas telah berganti. Aku terkikik merasa terhibur. Aku tak percaya pernah jatuh ke dalam rayuannya dulu, padahal kutahu dia manusia yang bahkan lebih bodoh dari kebanyakan.

Timur, lelaki itu harus tahu. Ketika dia dulu memujiku bahwa aku bukan gadis biasa, itu adalah benar. Mungkin jika ia mengucapkannya dengan sedikit kesungguhan, ia akan berulang kali berpikir untuk membuangku dari hidupnya. Tapi aku tak bisa dibuang, sebagai hadiah atas keputusannya yang salah, aku akan terus menghantuinya sampai aku bosan, bersekongkol dengan cakrawala seperti yang dia katakan.

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s