Scene on Three (20)

“Meratapi pot tua jelek itu—sebelum sarapan, di pagi yang cerah begini lagi. Kalau aku, sudah kuhancurkan barang jelek usang itu dan selesai dengannya—biarpun aku benar-benar berpikir kau akan menyukainya,” dia memperhatikan tatapan kesal dari pria tua itu, dan meletakkan piring-piring di atas meja dengan tidak sabar. “Apa gunanya menyesali kejadian yang sudah lewat dan tidak bisa diubah! Cuma masa depan yang bisa kita ubah, dan ke sanalah kita harus berpikir, dan memperbaiki kejadian di masa lalu.”

 

Diambil dari novel Knock Three Times karya Marion St. John Webb. Menyesali kejadian masa lalu bukan hal aneh lagi buat manusia, meskipun sudah ditekadkan untuk melupakannya tapi enggak segampang itu. Kadang-kadang butuh kekuatan super. Dan kadang-kadang memang menjengkelkan juga liat orang yang suka meratapi kejadian yang sudah lampau (kalo orang lain pelakunya kan biasanya lebih peka buat jengkel). Sudahlah jangan meratapi masa lalu (ini saya ngomong sama diri sendiri juga), kayak kata lagu dangdut; masa lalu biarlah masa lalu.

 

_________________________________

Mau ikutan Scene on Three? Silakan klik gambar di bawah dan lihat peraturannya.

scene-on-three

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

4 thoughts on “Scene on Three (20)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s