Sideway Stories from Wayside School — Louis Sachar

15779

Judul: Sideway Stories from Wayside School

Penulis: Louis Sachar

Ilustrator: Adam McCauley

Yang pertama kali muncul di kepala saya ketika ingat buku ini adalah: Ini adalah novel terabsurd yang pernah saya baca.

In a good way. Campuran fantasi yang nampak asal-asalan namun malah membangun keunikan dan daya pikatnya tersendiri. Dialognya sering kali bodoh namun juga satir, kadang saya merasa dibangunkan oleh hal-hal sepele yang ada dalam novel ini. Dibangunkan gimana ya… hm… Meskipun ringan, namun saya mengendus filosofi-filosofi yang bertebaran dari buku ini, tapi sebetulnya saya tidak tahu apa itu (lho, gimana sih?!). Membaca novel ini, saya tak berhenti ketawa karena terkejut akan kerandomannya, kadang-kadang campuran -_- dan =)) sih.

Terdiri dari tiga puluh chapter dan mewakili karakter-karakter yang ada novel ini. Pertama, diceritakan seorang guru bernama Mrs. Gorf yang jahat. Kalau anak-anak nakal, ia akan mengubah mereka menjadi apel. Lalu ada guru yang sangat baik bernama Mrs. Jewl yang pertama kali bertemu menganggap dirinya sedang memasuki kebun binatang dan menemukan monyet-monyet alih-alih murid. Pokoknya absurd banget deh. Tapi menyegarkan kayak es lemon (tapi sering bikin keselek dan batuk).

Murid-muridnya juga semua unik. Ada yang namanya Stephen, dia punya rambut warna hijau, wajah warna biru, dan telinganya warna ungu. Atau murid bernama Todd yang sesungguhnya baik tapi selalu sial dan disuruh pulang ke rumah duluan karena selalu dianggap telah melakukan tiga kesalahan. Atau Paul yang selalu tidak tahan untuk menarik kepangan rambut Leslie karena kepangannya juga menggoda Paul (“Tarik aku!, Tarik aku!” semacam itu). Atau ada Sammy yang pake jas hujan tapi wajahnya gak keliatan dan dia sangat bau sekali, semua berpikir jas hujannya yang bau, jadi dibukalah jas hujan itu, tapi kemudian ada jas hujan lain di dalamnya, dan yang lain lagi, dan yang lain lagi, tapi wajahnya tetap nggak keliatan, dan baunya semakin menusuk, taunya dia adalah… *bisik-bisik*. Atau Rondi yang dua gigi depannya ompong.

“Your front teeth are so cute,” said Mrs. Jewls. “They make you look just adorable.”

“But, Mrs. Jewls,” said Rondi. “I don’t have any front teeth.”

“I know,” said Mrs. Jewls. “That’s what makes them so cute.”

Rondi didn’t understand.

“Oooh, Rondi, I just love your two front teeth,” said Maurecia. “I wish I had some like that.”

“But I don’t have them,” said Rondi.

“That’s why I love them so much,” said Maurecia.

“Oh, this is silly,” said Rondi. “Everybody thinks the teeth I don’t have are cute. I’m not wearing a coat. Don’t you all just love my coat? And what about my third arm? I don’t have one. Isn’t it lovely?”

“Love your hat, Rondi,” said Joy.

“I’m not wearing a hat!” Rondi screamed.

Isi ceritanya banyak yang terkesan nonsense tapi nyentil, misalnya ketika Calvin disuruh mengantarkan note yang sesungguhnya tidak ada ke lantai yang tidak ada di sekolah itu dan memberikannya pada guru yang juga tidak ada.

4,5 bintang karena saya menemukan novel ini sangat beda dari yang lain, isinya absurd yang menurutku tak sekadar absurd (plus merasa syok kok ada buku beginian).

Postingan lain yang membahas novel ini: Scene on Three (5)

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s