Frankenstein — Mary Shelley

20649712

 

Judul: Frankenstein

Penulis: Mary Shelley

Penerbit: Gramedia (2014)

Tebal: 312 halaman

Pada waktu sebelum membaca ini, ternyata saya salah paham. Frankenstein adalah nama yang tidak begitu asing di cerita-cerita fiksi, yang dibilang berasal dari karya klasik terkenal. Dan saya kira Frankenstein adalah vampir yang bangun dari peti mati dengan muka penuh jahitan lalu memburu leher-leher manusia untuk dijadikan tempat pendaratan gigi taringnya. Ternyata bukan, di sini Frankenstein adalah orang pintar yang bodoh. Ia begitu berambisi menciptakan makhluk menyerupai manusia, namun lekas melarikan diri ketika ciptaannya tak sesuai keinginan.

Victor Frankenstein telah mengerahkan upayanya untuk membuat si makhluk, ditopang pengetahuannya yang luas. Karena ia bukan Tuhan, maka ia tidak bisa sekadar kun fayakun. Dan tentu saja ia tidak bisa melihat dengan pasti apakah ciptaannya akan menggambarkan keberhasilan atau kegagalan. Yang jelas ia berusaha.

Ketika ciptaannya selesai dibuat, yang ada bukan makhluk indah, melainkan menyerupai monster menakutkan. Frankenstein melarikan diri dari karyanya sendiri. Sedangkan si monster bangun dengan memiliki perasaan, mengetahui dirinya diabaikan dan tak diinginkan oleh penciptanya sendiri. Sungguh cara penyambutan yang ngeri.

Saya tidak mengerti kenapa Frankenstein tidak mematikan karyanya sebelum berhasil hidup. Apakah dia tidak melihat sebelumnya, bahwa karyanya adalah calon ‘kegagalan’? Mengapa baru sadar setelah makhluk itu membuka mata? Mengapa pula ia langsung melarikan diri? Bukankah seharusnya tahu bahwa meninggalkan monster itu begitu saja dapat menimbulkan masalah? Monster itu bisa pergi ke mana saja, karena, Frankenstein, Anda baru saja menciptakan makhluk hidup menyerupai manusia, bukan sekeping kue yang bisa terus menempel di piring ketika engkau kembali.

Ah, tapi pikiran kalut dan terguncang sering kali membimbing kita ke dalam keputusan yang tidak masuk akal, bukan? Okelah kalo begitu.

Dan berkeliaranlah monster itu, menebar teror, membunuh orang-orang demi menyalurkan dendamnya pada Frankenstein. Karena biarpun monster itu mengaku pada awalnya ia akan legowo, faktanya ia butuh teman di dunia ini, selayaknya manusia. Hal itu membuatnya berusaha melakukan pendekatan pada manusia. Namun karena ia mengerikan, sebaik apa pun usahanya, pada akhirnya manusia-manusia itu ketakutan dan memaki-maki hanya karena melihat rupa dan wajahnya.

Sesungguhnya novel ini memang novel sedih alih-alih seram.

Lalu bagaimana dengan Frankenstein? Ia kemudian berusaha menangani bencana yang timbul akibat tangannya sendiri. Hidupnya disesaki kesedihan dan ia harus menebusnya. Tapi tak segampang itu, monster yang ia ciptakan memiliki tumpukan rasa benci dan sakit hati yang terlampau menggunung.

Dan …bacalah novel ini karena saya tidak tahu mau nulis apa lagi. :mrgreen:

Oh iya, bagian awalnya terasa sangat lambat sampai-sampai saya kebingungan apakah saya sedang membaca cerita atau sedang mengendarai siput.

3,7 dari 5 bintang.

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

2 thoughts on “Frankenstein — Mary Shelley”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s