A Man Called Ove — Fredrik Backman

28916932

Judul: A Man Called Ove

Penulis: Fredrik Backman

Alih Bahasa: Ingrid Nimpoeno

Penerbit: Noura (2016)

Tebal: 440 halaman

Ove benar-benar tipe orang yang tidak akan disukai. Misalnya saya, bila bertemu dengan orang tua yang suka menghardik macam dia, wes saya mending dadah-dadah aja. Berusaha untuk tidak terlibat apa pun dengannya. Tapi buku ini mengingatkan bahwa selalu ada sebab sebelum akibat. Bagaimana Ove menjadi pria tua pemarah, kasar, keras kepala, sebagian besar adalah hasil sumbangsih dari apa yang telah diketahui dan dialaminya semasa hidup. Jika Ove adalah laut, maka pastilah laut yang sangaaat dalam. Tak bisa dilihat dengan pasti seperti apa rupa dasar laut yang dimilikinya hanya dari menatap sekilas permukaannya, kecuali kita terjun ke dalamnya dan menyaksikan sendiri.

Biarpun tokoh utama novel ini merupakan potret orang yang menyebalkan, tapi ketika membacanya, saya malah tertawa-tawa. Atau paling tidak cengar-cengir. Tentu karena Fredrik Backman mengerti keinginan saya (anggap saja begitu). Sarkasme dan gerutuan Ove tampak… lucu. Mungkin karena dia tokoh fiksi dan bukan saya sasarannya hahaha. Tapi meskipun begitu,  ketika Ove kasar terhadap orang baik yang tidak tahu bagaimana cara meladeninya, saya sedih… (Sebetulnya tidak ada yang disebutkan seseorang baik nan rapuh terluka batinnya gara-gara kekasaran Ove sih, namun ada cerita di dalam buku ini kalau Ove berkelakuan buruk pada badut di rumah sakit. Apalah badut, dia begitu demi mencari nafkah, karena sepertinya langka sekali di permukaan bumi ini seseorang bercita-cita menjadi badut. Nah, masalahnya di buku ini tidak digambarkan dengan jelas bagaimana suara hati si badut. Bagaimana kalau sebetulnya dia terluka mengharu-biru bermuram durja diam-diam di bawah atap rumahnya yang miring pada malam hari setelah siangnya dihina oleh Ove? Saya benar-benar memikirkannya seolah-olah itu permasalahan dunia. Oke, udah kok curhatnya.)

Lain lagi dengan Parvaneh dan Patrick yang membuat kekasaran Ove menjadi lucu. Mereka adalah tetangga baru yang secara langsung mempengaruhi hidup Ove selanjutnya. Bagaimana mereka selalu menggagalkan rencana besar Ove setiap saatnya, atau anak-anaknya yang lovable, saya suka banget.

Ove itu orang yang selalu memakai otak dan terkesan heartless, tapi rencana besar yang ingin ia lakukan malah membuat kesan ia adalah orang yang sebaliknya. Cintanya pada Sonja-lah yang membuatnya seperti itu.

Sonja adalah istrinya. Yang anehnya punya watak berkebalikan dengan Ove. Sonja adalah wanita dengan pribadi yang riang, hangat, penuh cinta kasih, pokoknya gitu lah. Sehingga rasanya wajar bila orang-orang bertanya, bagaimana mungkin Sonja bisa jatuh cinta kepada Ove?

Kendati Ove dengan sikapnya itu tampak bagai manusia jahat, dia adalah seseorang yang peduli, dia tidak bisa membiarkan sesatu berjalan dengan tidak seharusnya. Meskipun ia melakukannya dengan terpaksa ataupun diiringi dengan gerutuan bahkan makian. Masa lalu Ove yang pelan-pelan diceritakan di buku ini juga akhirnya bisa membuat saya lebih mengerti mengapa dia menjadi seperti itu.

Oh iya, perang dingin antara Ove dan temannya gara-gara beda selera mobil itu kekanakkan banget. Saya nggak habis pikir. [sisipkan emot nangis ketawa di sini]

Ove di cover buku edisi ini kok rasanya terlalu tua untuk usia 59 tahun…

4,7 dari 5 bintang!

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s