Sandal-Sandal Sarmin

sandal jepit
source: etsy.com

 

Sarmin tidak pernah salat kecuali salat Jumat. Salat Jumat adalah lapak sampingan mata pencahariannya. Pekerjaan utamanya adalah pemulung, terkadang barang-barang yang entah masih dipakai atau tidak oleh pemiliknya di belakang rumah mereka pun dipulungnya.

 

Sebelum bedug dihunjam pemukul, Sarmin berdoa dalam hati setelah meletakkan peci kelabunya di kepala, “Ya, Tuhan, lancarkanlah pekerjaanku kali ini.” Lalu pria sebatang kara itu akan melangkahkan kakinya ke masjid dengan sandal butut yang dianggapnya sebagai modal. Ia meninggalkan rumah doyongnya dengan harapan besar.

 

Sarmin tidak pernah berada di barisan pertama—ia selalu berada di dekat pintu keluar masjid agar bisa cepat-cepat menukarkan sandalnya dengan sandal yang bagus dan layak dijual. Selama khatib meluncurkan kata-katanya di balik mimbar, dada Sarmin berdegup kencang. Ketika masuk masjid tadi, ia sudah menandai beberapa sandal bagus yang kira-kira akan dirampoknya. Tidak, tidak, hanya ditukar, kilahnya dalam hati. Dan ketika jamaah solat jumat memunajatkan nama rasul mereka, doa dalam hati Sarmin semakin pula kencang, “Ya Tuhan yang mahapengasih pula penyayang, lancarkanlah kegiatan penukaran ini.”

 

Tekadnya bulat sekali. Benar-benar bulat, tidak lonjong seperti bentuk telur yang jarang dimakannya.

 

“AAAMIIIIIIN,” Sarmin berujar seorang diri dengan kencang, mengaminkan doanya sendiri tanpa sadar.

Beberapa pasang mata melirik ke arahnya. Bahkan khatib pun meliriknya. Bisikan-bisikan terdengar telinganya. Sarmin berpura-pura tidak peduli. Ketika ceramah berlanjut, Sarmin mengenang kali pertama ia menukarkan sandal. Sandal jepitnya yang bolong telah terganti sandal hitam mengilat dan terlihat kokoh. Kali itu penukaran berhasil tanpa cacat. Pria itu berhasil masuk rumah tanpa ada pelototan mata yang ditujukan pada sandal yang dipakainya. Ia juga berterima kasih setelah itu pada Tuhan dan malaikat-malaikat yang memergokinya untuk tidak bilang pada siapa-siapa.

 

Semoga Tuhan dan para malaikat kali ini tidak bilang pada siapa-siapa juga.

 

“Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya.” Khatib berkoar dari arah depan masjid. Masjid tempat ia berada tidak memiliki kipas angin apalagi AC, di luar sangat terik. Sarmin kegerahan, namun kalimat tadi berhasil masuk ke dalam telinganya. Ia mengangguk-angguk. Ah, ia pikir ia tidak pernah ketahuan mencuri sandal mungkin karena ia tak pernah bilang pada warga desa kalau si Jarwo lah yang suka maling ayam.

 

Ketika salat, Sarmin hanya berbunyi pelan “wesswessweswes” karena ia tidak pernah diajari salat apalagi menghapal bacaannya. Imam mengucapkan salam dan hati Sarmin berpacu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri lalu keluar masjid dengan cepat namun berusaha tak mencurigakan. Ia memakai sandal orang lain yang diincarnya. Telapak kakinya merasakan panasnya sandal yang terpanggang matahari. Setelah itu ia keluar pagar masjid dengan berusaha tidak menoleh ke belakang.

 

Di tikungan jalan, ia berlari dan berlari. Ia berlari seperti dikejar anjing, Sarmin merasa ketakutan. Ia menoleh ke belakang dan tidak menemukan siapa-siapa di belakangnya. Namun dadanya memperdengarkan derap-derap langkah yang seolah mengejar. Sarmin kelelahan sendiri. Ia mengerem larinya, duduk di tanah sambil bersandar pada pohon pisang sambil mengatur napas. Apa yang barusan terjadi dengannya sungguh tak masuk akal. Tak perlu lah aku demikian ketakutan, pikir Sarmin sambil mengelus dadanya sendiri. Tenggorokannya terasa kering, perutnya keruyukan. Dan selain itu, ada dentuman aneh yang berasal dari dadanya. Sarmin merasa tidak tenang meskipun ini bukan kali pertamanya mencuri sandal.

 

Setelah masuk rumah dan menimbun sandal curiannya di kolong ranjang penuh rayap, Sarmin pergi keluar untuk mencari makan di warteg Bi Odah. Ya, Sarmin masih menumpuk seluruh sandal curiannya di rumah dan akan menjual semuanya di pasar tumpah minggu depan. Di warteg ia hanya memesan nasi serta tahu dan tempe. Tak ada yang lain lagi kecuali segelas besar teh pahit. Itu adalah menu andalannya sehari-hari. Dan karena itulah ia perlu mencari uang lain selain menjadi pemulung.

 

Televisi di warteg itu memunculkan berita mengenai pejabat korupsi, tapi tersangka masih senyum-senyum saja pamer gigi. Sarmin membuat gerakan meludah. Beraninya koruptor itu cengangas-cengenges di depan media padahal menurut Sarmin, dia adalah penyebab hidupnya menjadi pemulung. Pemerintah tak pernah kasihan pada rakyat kecil! lolong Sarmin dalam hati.

 

“Gantung saja para koruptor itu!” seru Rusli sambil memuncratkan sebagian apa yang dimakannya. Ia adalah tukang ojek senior.

 

“Kalau di gantung mah keenakan, mendingan biar membusuk saja di penjara,” timpal yang lain. “Biar tahu rasa.”

 

“Koruptor kan masih bisa mewah-mewah di penjara, toiletnya bisa toilet duduk!”

 

“Edan. Yang tidak korupsi saja masih ada yang harus pergi ke sungai.”

 

“Kalau di zaman rasulullah sih para pencuri itu dipotong tangannya!”

 

Sarmin diam saja. Ia tidak tahu apakah jika ia hidup di zaman rasulullah ia akan dipotong tangannya hanya karena mencuri sandal atau tidak. Makanan alakadarnya yang jadi santapannya itu kini tidak enak lagi. Sarmin ingin sekali menyumpal telinganya dengan apa pun agar tidak mendengar lagi perkataan orang-orang yang memenuhi warteg. Teh pahit itu diteguknya lagi dan Sarmin menemukan Jarwo si pencuri ayam duduk diam juga di sebuah sudut. Mungkinkah Jarwo sedang berpikir apa yang sedang dipikirkan Sarmin? Tapi laki-laki itu mengguratkan mimik wajah yang seakan tidak peduli.

 

“Dengar-dengar tadi ada yang kehilangan sandal lagi!” kata Rusli.

 

Sarmin nyaris saja tersedak. Tidak bisakah Rusli diam sebentar saja? Dadanya bergemuruh.

 

“Wah, kurang ajar!” ujar Sarmin tiba-tiba seakan tidak mau dicurigai sebagai tersangka. Semua orang menoleh padanya seakan-akan menemukan keanehan.

 

Sarmin keluar dari warteg dengan dada panas. Ia berusaha mengatur dirinya sendiri agar tidak begitu tegang. Orang-orang pasti takkan tahu kalau ialah pelakunya. Sarmin berkali-kali meyakinkan diri. Ia meraih karung dan dipanggulnya untuk menelusuri setiap jengkal desa, mencari barang-barang yang bisa dipulung.

 

Malam harinya Sarmin mematung di pinggir ranjang, sekali-kali ia menengok ke kolong, dan karung tempat ia menimbun rupa-rupa sandal itu masih di situ. Paginya ia terseok-seok mencari barang-barang rongsokan dan plastik-plastik kemasan yang berserakan. Matanya sayu, ada bayangan hitam di bawahnya, ia kekurangan tidur. Semalam ia dilahap mimpi buruk sehingga waktu habis hanya dengan berguling-guling gelisah.

 

“ITU DIA SI PENCURI SANDAL!” Teriakan dari arah timur datang lebih mengejutkan ketimbang suara guntur di siang bolong. Sarmin menjatuhkan karungnya. Dadanya kembali bergemuruh, ia melihat sekumpulan orang berlari menyerbu padanya dengan berbagai pemukul. Sarmin berlari sekuat tenaga, lari dan berlari, ketakutannya berkumpul dan membuncah sampai-sampai rasanya ia akan meledak. Rupanya ia telah dicurigai selama berminggu-minggu oleh penjaga masjid. Tidak jauh dari sana, rumah doyong Sarmin telah diobrak-abrik dan karung berisi sandalnya ditemukan.

 

Namun, Sarmin adalah pelari yang hebat. Ia sampai di belakang rumah seorang warga dan bersembunyi di sana. Sarmin bersandar pada tembok berjamur belakang rumahnya dengan napas yang masih memburu. Rasanya ia tidak bisa berpikir. Pemukul-pemukul yang dibawa warga dengan wajah beringas membuatnya ketakutan. Ia harap masih bisa diberi pengampunan karena hanya mencuri sandal, bukan uang rakyat. Tapi sialnya, ia lebih sering mendengar pencuri ayam mati digebuki warga ketimbang koruptor yang wajahnya babak belur.

 

Tampaknya Jarwo orang yang beruntung…

 

Tiba-tiba terdengar teriakan dan suara-suara hentakan kaki yang berlari. Sarmin bergetar seperti kucing basah yang kedinginan. Saat itu pula muncul Jarwo dari arah lain. Dari mulutnya bersemburan asap dari rokok yang sedang dihisapnya. Jarwo melihat Sarmin dengan agak heran, sementara Sarmin membatu.

 

“Jarwo! Lihat Sarmin?”

 

Keringat deras seakan menyembur dari setiap pori-pori Sarmin. Ia menatap pias ke arah Jarwo yang kemudian mengangguk-angguk macam orang polos ke warga yang bertanya. Tangannya yang sering ia gunakan untuk menyolong ayam itu kini menunjuk Jarwo. Tangan orang yang tak pernah Jarwo katakan pada warga apa dosanya.

 

Suara ribut-ribut terdengar mendekat ke arah Sarmin. Ia tidak bisa berdiri, badannya terlalu bergetar. Ia mencoba bangkit untuk melarikan diri tapi sekelompok warga yang berang itu keburu mengepungnya. Seperti mengepung ayam yang malang.

 

Sarmin tidak tahu lagi apa yang terjadi karena rasa nyeri yang tumbuh dari segenap tubuhnya akibat pukulan-pukulan itu mengantarkannya pada kegelapan.***

 

Bandung. Mei, 2015.

Advertisements

Author: wingedwind

Aku adalah aku yang sebagian aku tahu dan sebagian aku tak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s