Scene on Three (25)

Pikiranku menjadi jernih, aku mengerti bahwa aku nyaris binasa. Aku mengulurkan kedua belah tanganku dan mendorong diriku dari dinding; jalanan masih tetap menari-nari di sekitarku. Aku mulai batuk-batuk karena marah dan aku berjuang melawan cobaan ini: dari lubuk hatiku aku berikhtiar agar dapat berdiri tegak dan tidak roboh; aku tak mau jatuh, aku ingin mati sambil berdiri.

(((mati sambil berdiri)))

Antara kagum dan pengen ngakak.

Penggalan ini dari novel yang diterbitkan pertama kali tahun 1890, Lapar karya Knut Hamsun. Hampir di sepanjang novel ini memang menggambarkan perjuangan si “Aku” melawan rasa lapar. Ini adalah salah satu dari sekian banyak bagian yang menceritakan usahanya untuk tidak roboh. Bisa dilihat bagaimana kuat keinginannya untuk tetap berpijak dengan kakinya.

Saat membaca ini, saya jadi teringat pengalaman yang cukup menjengkelkan, ketika saya berusaha untuk tidak roboh alias pingsan. Jadi sedikitnya saya tahu bagaimana perasaan si “Aku” ini. Waktu itu saya di kosan sedang sakit… dan lapar. Perut saya sebetulnya tidak kosong-kosong amat. Saya sudah isi dengan roti dan ener*en. Sehabis makan itu saya cuma meringkuk. Luar biasa pusing dan meriang. Beberapa jam setelah itu saya memutuskan keluar dan nyari makan. Tapi baru setengah jalan, saya makin lemas dan penglihatan buram lalu kayak diperangkap jaring-jaring kuning. Saya panik, “Saya nggak mau pingsan di tengah jalan!” wkwkwk. Saya bersikeras tetap jalan karena saya bingung juga mau berhenti di mana. Saya istigfar aja berkali-kali, pokoknya saya nggak mau pingsan. Titik. Saya membayangkan saya akan sampai di tempat si ibu penjual ayam, lalu pesan dan bilang saya pusing sehingga saya bisa tidur di mejanya. Tapi 10 meter sebelum sampai, saya sudah ambruk. Tepat setelah ada bapak-bapak tukang bangunan di pinggir jalan (yang nggak keliatan mukanya) nawarin makan. Begitulah, tapi saya bersyukur bukan pingsan di tempat yang ekstrem.

Maka dari itulah, saat membaca ini saya kayak “Nggak usah maksa-maksain jalan!”. Saya penasaran juga Knut Hamsun pernah ngerasain ini atau tidak…

——————–
Mau ikutan Scene on Three? Klik gambar berikut dan lihat ketentuannya.

scene-on-three

Advertisements

A Man Called Ove — Fredrik Backman

28916932

Judul: A Man Called Ove

Penulis: Fredrik Backman

Alih Bahasa: Ingrid Nimpoeno

Penerbit: Noura (2016)

Tebal: 440 halaman

Ove benar-benar tipe orang yang tidak akan disukai. Misalnya saya, bila bertemu dengan orang tua yang suka menghardik macam dia, wes saya mending dadah-dadah aja. Berusaha untuk tidak terlibat apa pun dengannya. Tapi buku ini mengingatkan bahwa selalu ada sebab sebelum akibat. Bagaimana Ove menjadi pria tua pemarah, kasar, keras kepala, sebagian besar adalah hasil sumbangsih dari apa yang telah diketahui dan dialaminya semasa hidup. Jika Ove adalah laut, maka pastilah laut yang sangaaat dalam. Tak bisa dilihat dengan pasti seperti apa rupa dasar laut yang dimilikinya hanya dari menatap sekilas permukaannya, kecuali kita terjun ke dalamnya dan menyaksikan sendiri.

Biarpun tokoh utama novel ini merupakan potret orang yang menyebalkan, tapi ketika membacanya, saya malah tertawa-tawa. Atau paling tidak cengar-cengir. Tentu karena Fredrik Backman mengerti keinginan saya (anggap saja begitu). Sarkasme dan gerutuan Ove tampak… lucu. Mungkin karena dia tokoh fiksi dan bukan saya sasarannya hahaha. Tapi meskipun begitu,  ketika Ove kasar terhadap orang baik yang tidak tahu bagaimana cara meladeninya, saya sedih… (Sebetulnya tidak ada yang disebutkan seseorang baik nan rapuh terluka batinnya gara-gara kekasaran Ove sih, namun ada cerita di dalam buku ini kalau Ove berkelakuan buruk pada badut di rumah sakit. Apalah badut, dia begitu demi mencari nafkah, karena sepertinya langka sekali di permukaan bumi ini seseorang bercita-cita menjadi badut. Nah, masalahnya di buku ini tidak digambarkan dengan jelas bagaimana suara hati si badut. Bagaimana kalau sebetulnya dia terluka mengharu-biru bermuram durja diam-diam di bawah atap rumahnya yang miring pada malam hari setelah siangnya dihina oleh Ove? Saya benar-benar memikirkannya seolah-olah itu permasalahan dunia. Oke, udah kok curhatnya.)

Lain lagi dengan Parvaneh dan Patrick yang membuat kekasaran Ove menjadi lucu. Mereka adalah tetangga baru yang secara langsung mempengaruhi hidup Ove selanjutnya. Bagaimana mereka selalu menggagalkan rencana besar Ove setiap saatnya, atau anak-anaknya yang lovable, saya suka banget.

Ove itu orang yang selalu memakai otak dan terkesan heartless, tapi rencana besar yang ingin ia lakukan malah membuat kesan ia adalah orang yang sebaliknya. Cintanya pada Sonja-lah yang membuatnya seperti itu.

Sonja adalah istrinya. Yang anehnya punya watak berkebalikan dengan Ove. Sonja adalah wanita dengan pribadi yang riang, hangat, penuh cinta kasih, pokoknya gitu lah. Sehingga rasanya wajar bila orang-orang bertanya, bagaimana mungkin Sonja bisa jatuh cinta kepada Ove?

Kendati Ove dengan sikapnya itu tampak bagai manusia jahat, dia adalah seseorang yang peduli, dia tidak bisa membiarkan sesatu berjalan dengan tidak seharusnya. Meskipun ia melakukannya dengan terpaksa ataupun diiringi dengan gerutuan bahkan makian. Masa lalu Ove yang pelan-pelan diceritakan di buku ini juga akhirnya bisa membuat saya lebih mengerti mengapa dia menjadi seperti itu.

Oh iya, perang dingin antara Ove dan temannya gara-gara beda selera mobil itu kekanakkan banget. Saya nggak habis pikir. [sisipkan emot nangis ketawa di sini]

Ove di cover buku edisi ini kok rasanya terlalu tua untuk usia 59 tahun…

4,7 dari 5 bintang!

Yang Dibaca di 2016

untitled-2
(c) Goodreads

 

Omong-omong, gambar yang gak muncul itu bukunya Neil Gaiman, Stardust.

Omong-omong, sebenernya bikin postingan ini karena biar bulan Desember ada postingannya (November saya berhasil mengkhianati janji sendiri buat ngepost minimal satu bulan sekali, aaaack tidaaaak!).

Omong-omong, sampai jumpa tahun depan.