Sandal-Sandal Sarmin

sandal jepit
source: etsy.com

 

Sarmin tidak pernah salat kecuali salat Jumat. Salat Jumat adalah lapak sampingan mata pencahariannya. Pekerjaan utamanya adalah pemulung, terkadang barang-barang yang entah masih dipakai atau tidak oleh pemiliknya di belakang rumah mereka pun dipulungnya.

 

Sebelum bedug dihunjam pemukul, Sarmin berdoa dalam hati setelah meletakkan peci kelabunya di kepala, “Ya, Tuhan, lancarkanlah pekerjaanku kali ini.” Lalu pria sebatang kara itu akan melangkahkan kakinya ke masjid dengan sandal butut yang dianggapnya sebagai modal. Ia meninggalkan rumah doyongnya dengan harapan besar.

 

Sarmin tidak pernah berada di barisan pertama—ia selalu berada di dekat pintu keluar masjid agar bisa cepat-cepat menukarkan sandalnya dengan sandal yang bagus dan layak dijual. Selama khatib meluncurkan kata-katanya di balik mimbar, dada Sarmin berdegup kencang. Ketika masuk masjid tadi, ia sudah menandai beberapa sandal bagus yang kira-kira akan dirampoknya. Tidak, tidak, hanya ditukar, kilahnya dalam hati. Dan ketika jamaah solat jumat memunajatkan nama rasul mereka, doa dalam hati Sarmin semakin pula kencang, “Ya Tuhan yang mahapengasih pula penyayang, lancarkanlah kegiatan penukaran ini.”

 

Tekadnya bulat sekali. Benar-benar bulat, tidak lonjong seperti bentuk telur yang jarang dimakannya.

 

“AAAMIIIIIIN,” Sarmin berujar seorang diri dengan kencang, mengaminkan doanya sendiri tanpa sadar.

Continue reading “Sandal-Sandal Sarmin”

The Willow Tree (2005)

the willow tree.jpg

 

Film ini bercerita tentang seorang Profesor bernama Youssef yang buta sedari kecil. Biar demikian, dia termasuk sukses dan hidup bahagia bersama istri dan anaknya. Tapi ada satu keinginannya dalam hidup yang ingin dicapai. Yakni bisa melihat. Suatu ketika datanglah keajaiban itu. Ia bisa melihat. Namun apakah mendapat kenikmatan melihat akan menjadikannya seseorang yang lebih baik atau sebaliknya?

Saya punya kebiasaan download film terus ditontonnya kapan-kapan. Film ini adalah satu korbannya. Setidaknya setahun kemudian baru saya tonton setelah agak terkejut; kok saya punya film ini ya. Kalau tidak salah sih saya menontonnya pada saat saya merasa jiwa saya kering kerontang, pengen disiram tapi bukan dengan ceramah langsung. Jreng, jreng, saya nemu film ini dan coba-coba.

Teruntuk beberapa teman saya yang tidak percaya saya bisa menangis, mereka seharusnya menyaksikan saya waktu saya menonton film ini (salah seorang dari mereka malah bilang katanya saya gak bakalan nangis walaupun saya ngiris bawang sebanyak apa pun, ya ampun ngakak saya). Pasalnya, belum lima belas menit, saya udah mbrebes mili blas malem-malem sendirian depan laptop.

Sepertinya ini adalah kali pertamanya saya sangat bersimpati pada tokoh utama kemudian berbalik membencinya, kemudian bersimpati lagi. Sungguh saya kesal di tengah-tengah cerita. Saya seakan sedang menyaksikan seseorang yang saya kenal di dunia nyata tengah merusak hidupnya sendiri, dan saya berusaha untuk menggusurnya balik ke bagaimana dia hidup sebelumnya. Emosi saya dibolak-balik. Walau saya nangis di banyak part (ini saya lagi kenapa sih, oh, sensitif dan merasa kering kerontang you know, oh tapi film ini emang layak ditangisi, cryyyyy), tapi saya juga tertawa-tawa. Kayak, ya ampun saya nangis begini amat, terus saya ngetawain diri sendiri.

Selain film itu sendiri bagus, yang menakjubkan adalah pesan yang ingin disampaikan. So deeeeep. Hati saya terhempas dan jatuh berkeping-keping. Setelah yahooing (sebetulnya sih googling, tapi nggak apa-apa bohong dikit ya, tiba-tiba saya kangen yahoo), sutradaranya adalah Majid Majidi, orang yang sama yang menggarap Children of Heaven. Tau dong? Film itu juga bikin melongo sedih, sakit hati, tapi “that’s life…”

 

Tell me what’s worth seeing and I’ll tell you what’s not worth seeing.

How much have you been seeing? Are your eyes satisfied?

Film ini layak ditonton oleh siapa saja, apalagi kalau merasa jiwanya sedang kering kerontang. Insya Allah memberi pembelajaran.


Sesuai cuap-cuap saya di sini untuk ngisi blog dengan yang berhubungan sama nonton.