Di Bawah Epitaf

50

gambar (c) google

Langit mendung di langkah kesembilan

Kau tatap punggung-punggung itu

Menjauh

Tiada lagi yang berjongkok menatapmu

Tiada lagi yang menengadahkan tangan untukmu

Yang terhalang tanah

Kausadari duniamu yang bagai permen

Seolah direbut pergi

Dipakaikan pada seseorang

Bayi yang lahir besok, misalnya

Atau tunas baru di halaman belakang

Ganti, berganti

Giliranmu usai

Kau masih hidup

Ya, kau masih hidup

Tanpa napas

Tanpa teman

Tanah tak bisa diajak bercengkrama

Mungkin belatung, beberapa saat lagi?

Ah, dan kau sadar

Ada yang datang

Kau kenal

Meski tak kenal

Kau hapal, apa yang akan kau dengar

“Siapa tuhanmu?” kau ikut bertanya dalam hati.

Hujan turun di langkah-langkah yang tak lagi terhitung.

The Amulet of Samarkand (Bartimaeus, #1)

The Amulet of Samarkand (Bartimaeus, #1)The Amulet of Samarkand by Jonathan Stroud
My rating: 5 of 5 stars

…semacam jatuh cinta sama karakter Bartimaeus. Lucu. Bukan lucu kelinci unyu-unyu, tapi tingkahnya dan pikirannya dan celetukan–pedes–nya yang sering bikin nyengir.

Ibarat sayur, maka novel ini adalah sayur bersantan. Begitu kental (sebenernya sih bingung jelasinnya, pokoknya kental!). Tiap kalimat kayaknya menggambarkan rasa fantasi. Fantasi gelap yang alhamdulillah terselip humor-humor. Bartimaeus udah dibilangin… apalagi novel ini dibagi jadi dua sudut pandang, nah, sudut pandang si Bartimaeus ini ngebantu Stroud menyampaikan jin macam apa si bartemaeus ini. Hahaha.

Oh, dan Nathaniel, bocah ambisius yang berani memanggil Bartimaeus untuk menyuruhnya mencuri amulet hanya karena ingin memberi pelajaran pada penyihir yang sudah bertindak kejam padanya di kediaman masternya pun karakter yang menarik, meski gak punya selera humor (novel lawak dong kalo iya). Bocah ini cerdas di seusianya, harga diri tinggi maka dari itulah ia mencuri amulet dari penyihir yang kejam padanya itu sebagai balas dendam, namun ternyata dampak di depan sangat menakutkan sampai harus berurusan dengan nyawa.

View all my reviews

Adakalanya

Image

Adakalanya manusia merasa berada di dalam sebuah sangkar. Sangkar besi. Kokoh. Kuat. Bahkan terlalu berat untuk digantungkan pada sebuah tiang bambu.

Adakalanya manusia merasa siang bukanlah siang. Gelap. Sepi. Mencekik. Walau kenyatannya ingar-bingar.

Adakalanya manusia merasa bosan melihat dunia, timeline facebook penuh drama, atau tweet-tweet galau kaula muda yang tipikal.

Adakalanya manusia lupa agama, sehingga terus jatuh berkubang dalam kesedihan. Padahal Tuhan bersabda tiadalah orang beriman yang bersedih hatinya.

…nah, setumpuk nikmat manakah yang telah kudustakan?

La tahzan.

Tuhan, aku ingin meringkuk sejenak, pada bahuMu yang selalu lapang.

 

 

gambar (c) dandric101@deviantart