“Hai.”

“Apa kau ingin aku membalasmu?”

“Membalas apa?”

“Ucapan hai.”

“Terserah.”

“Apakah terserah yang dimaksud adalah terserah yang biasa diucapkan oleh perempuan ngambek?”

“……”

“Apa itu?”

“Titik-titik.”

“Bukan, maksudku, apa aku harus mengisinya?”

“Yaaaa…”

“Lalu mana soalnya?”

“Soal apa?”

“Hei, jangan bercanda. Bagaimana mungkin aku bisa mengisinya jika tidak ada soal!”

“Maumu apa sih?”

“Maumu kau memberiku soal, atau aku tidak akan mengisinya.”

“Tidak usah diisi!”

“Kenapa?”

“Karena kau menjengkelkan aaaaaarrrrrgh.”

Advertisements

Ledakan

Source: feedgrids.com
Source: feedgrids.com

Kepalaku terasa berat. Kurasa, akan meledak lagi. Terakhir kali kepalaku meledak, rumah berantakan. Padahal ukuran kepalaku biasa saja, maksudku, tidak lebih besar dari orang kebanyakan, tapi ketika meledak, kepalaku memuntahkan banyak benda yang bahkan tak terpikirkan. Kepalaku seperti baskom mahabesar yang memuat segala benda tak (benar-benar) berguna.

Aku duduk di lantai, kepalaku tersandar ke dinding. Denyutan yang menjadi-jadi ini telah beberapa kali kurasakan. Gejolak dalam kepalaku benar-benar tak tertahankan. Aku pasrah saja, kendati pun aku tak menyukainya. Aku hanya ingin merasakan sakit kepala yang biasa, yang biasa hilang dengan obat murah di warung. Bukan nyeri seperti ini, nyeri yang merupakan hitungan mundur bagi ledakan kepala.

Tubuhku bergetar hebat, kepalaku meledak. Aku menjerit seperti kesetanan, terdengar lebih pilu daripada lolongan anjing yang kudengar kemarin malam. Segala benda berlesatan keluar kepalaku. Bersemburan seperti kejutan.

Setelah kulihat-lihat, lebih banyak dari yang terakhir kali. Aku melihat kertas-kertas usang tergolek di lantai, perabotan, gulungan benang kusut, roda motor, kuas, besi-besi bengkok, dan banyak benda baru lainnya yang tak kutemukan di ledakan-ledakan sebelumnya.

Setelah meledak, aku merasa agak plong, kepalaku ringan tanpa beban, meski ketika meledak sakitnya bukan main. Kutatap benda-benda yang berserakan di sekitarku, sebuah gelas berisi kopi pecah terkena hantaman besi. Aku menghampiri laci, hendak mengambil jarum dan benang. Aku akan menjahit kepalaku, seperti biasa yang kulakukan setelah ledakan terjadi.

Hati-hati kujahit kepalaku, kuraba-raba sebisaku, aku sudah tidak peduli seberapa hancur kepalaku terlihat. Sesekali aku mengerang ketika jarum menusuk kepala.

Lantas sebuah pikiran melintas, mengenai kemungkinan kepalaku akan meledak lagi dalam waktu seminggu atau beberapa hari lagi.

Aku termenung.

Kuletakkan jarum dan benang ke lantai. Aku tidak mau menjahitnya dulu, cepat-cepat menjahitnya membuat kepalaku cepat penuh dan meledak lagi.

Merebah aku berbantalkan roda motor.

Kepalaku tak berbentuk.

Pelan-pelan kusenandungkan lagu.