Scene on Three (18)

“Sudahlah, Istri,” kata Ba, “Minli pergi tanpa bermaksud mencelakai kita.”

“Tidak,” kata Ma, ucapannya membelah udara di sekelilingnya, “dia pergi untuk mengejar dongeng, Gunung Tak Berujung dan Kakek Rembulan! Dari semua kebodohan yang ada!”

“Dongeng bukan kebodohan,” kata Ba lagi, masih dengan pembawaan tenangnya.

“Menurutmu!” kata Ma. “Karena kaulah yang telah mengisi otak Minli dengan dongeng-dongengmu. Membuatnya percaya bahwa dia bisa mengubah peruntungan buruk kita dengan kisah mustahil! Konyol!”

“Ya,” ujar Ba, “itu memang mustahil. Namun tidak konyol.”

Diambil dari novel Where the Mountain Meets the Moon (Tempat Gunung Berjumpa Rembulan) karya Grace Lin. Pengen peluk Ba karena saya pernah merasakan hal yang sama, ketika hobi membaca cerita dipandang remeh bahkan tidak bermanfaat. Krak, begitu bunyi hati saya waktu itu (halah). Mengapa bisa-bisanya ada orang yang beranggapan begitu? Bahkan dalam kitab suci kita sendiri, Allah menceritakan berbagai kisah, terutama kisah para nabi (yang bahkan tampak mustahil) untuk kita petik pelajarannya. Meskipun cerita fiksi adalah campuran kenyataan (maksudnya pengetahuan penulis dari kenyataan) dan imajinasi, tentu ada hal yang bisa dijadikan pelajaran. Banyak malah. Tinggal bagaimana kita mau mengaplikasikannya ke hidup (lalu hati saya krak lagi karena saya selalu bersusah payah dalam tahap ini).


Mau ikutan Scene on Three? Silakan klik gambar di bawah dan lihat ketentuannya.

scene-on-three

Advertisements