The Leap (Lompatan) — Jonathan Stroud

12857507

Penulis: Jonathan Stroud

Penerjemah: Jonathan Aditya Lesmana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Waktu Terbit: Oktober 2011

Tebal: 240 hlm

Buku kedua Jonathan Stroud yang saya baca setelah Bartimaeus #1. Padahal harusnya saya lanjutin seri itu dulu, apa daya saya lebih memilih yang lebih tipis dahulu hahaha. Omong-omong, buku yang satu ini tampaknya tidak begitu terkenal, bisa dilihat dari readers di goodreads dan dari header twitter Stroud sendiri—buku ini nggak terpajang! (penting banget).

The Leap memang beda dengan seri Bartimaeus. The Leap lebih sendu-sendu kelabu, sementara Bartimaeus lebih lugas dan lawak. Tapi dari segi bahasa, saya persembahkan jempol-jempol saya untuknya (hanya diacungkan, tidak saya potong terus kasih ke dia). Mungkin salah satunya memang karena ini juga, The Leap tidak begitu cetar. Bahasanya memang bagus, namun terkesan terlalu panjang untuk ceritanya. Sempet berhenti di tengah-tengah lama banget sebelum kembali lanjut baca. Deskripsinya semacam terlalu detail dan penuh perumpamaan (meskipun di lain konteks saya suka sih, muahaha).

Halah, kok malah banding-bandingin ya. =))

Saya suka kok, ceritanya. Meskipun kesimpulan akhir mengenai apa yang ‘diperbuat’ si tokoh utama selama ini bisa jadi terkesan remeh. Dan emang gemes juga saya sama si tokoh utama (Charlotte aka Charlie). Berasa pengen guncang-guncang bahunya dan berseru: Please, Charlie, bangun! Penggambaran tempat-tempat yang dilalui Charlie untuk menemukan Max juga dapet suramnya. Max, temannya Charlie yang diyakini masih hidup—yang membuatnya tampak agak ‘gila’. Dan kakaknya, James, di sini berperan sebagai kakak yang agak bodoh namun berusaha keras untuk mengembalikan kondisi Charlie, malah sedikit menghibur buatku.

Covernya bagus banget btw!

Tiga bintang dari lima bintang untuk buku ini.

Advertisements

The Amulet of Samarkand (Bartimaeus, #1)

The Amulet of Samarkand (Bartimaeus, #1)The Amulet of Samarkand by Jonathan Stroud
My rating: 5 of 5 stars

…semacam jatuh cinta sama karakter Bartimaeus. Lucu. Bukan lucu kelinci unyu-unyu, tapi tingkahnya dan pikirannya dan celetukan–pedes–nya yang sering bikin nyengir.

Ibarat sayur, maka novel ini adalah sayur bersantan. Begitu kental (sebenernya sih bingung jelasinnya, pokoknya kental!). Tiap kalimat kayaknya menggambarkan rasa fantasi. Fantasi gelap yang alhamdulillah terselip humor-humor. Bartimaeus udah dibilangin… apalagi novel ini dibagi jadi dua sudut pandang, nah, sudut pandang si Bartimaeus ini ngebantu Stroud menyampaikan jin macam apa si bartemaeus ini. Hahaha.

Oh, dan Nathaniel, bocah ambisius yang berani memanggil Bartimaeus untuk menyuruhnya mencuri amulet hanya karena ingin memberi pelajaran pada penyihir yang sudah bertindak kejam padanya di kediaman masternya pun karakter yang menarik, meski gak punya selera humor (novel lawak dong kalo iya). Bocah ini cerdas di seusianya, harga diri tinggi maka dari itulah ia mencuri amulet dari penyihir yang kejam padanya itu sebagai balas dendam, namun ternyata dampak di depan sangat menakutkan sampai harus berurusan dengan nyawa.

View all my reviews