The Miraculous Journey of Edward Tulane (Perjalanan Ajaib Edward Tulane) — Kate DiCamillo

1492896

Judul: The Miraculous Journey of Edward Tulane (Perjalanan Ajaib Edward Tulane)

Penulis: Kate DiCamillo

Ilustrator:  Bagram Ibatoulline

Alih bahasa: Diniarty Pandia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2006)

Tebal: 188 halaman

Ketika menemukan buku ini didiskon di sebuah toko online instagram, saya lihat-lihat cover-nya cukup menjanjikan, tentu saja saya langsung searching apakah buku ini layak dibeli atau tidak. Ternyata ratingnya bagus, dan saya belum menyadari kalau buku ini adalah buku yang muncul di drama Korea yang pacarku dari luar angkasa itu (tiba-tiba lupa judulnya).

Buku ini tipis, isinya dongeng.

Edward Tulane adalah boneka kelinci porselen milik Abilene Tulane, gadis kecil yang amat menyayanginya. Meskipun ia boneka dan tak bisa bergerak sekehendak hati, tapi ia “hidup”.

Edward memandang dirinya begitu indah dan tanpa cela, ia hidup sempurna dengan seseorang yang menyayanginya. Ia tidak suka diremehkan, misalnya ketika ibu Abilene menyebutnya “benda”. Ia tidak suka itu, ia menganggap dirinya lebih dari sekadar benda. Bahkan, saking ia memuji dirinya sendiri, ia sangat suka ketika wujudnya terpantul di kaca, sehingga ia bisa memandangi dirinya sendiri.

Abilene mengurus Edward dengan telaten. Edward diberinya banyak baju, dan, pokoknya sesempurna bagaimana boneka diperlakukan.

Tapi kendati Edward hidup di dalam limpahan kasih sayang Abilene, Edward tidak menyayangi Abilene. Ya, tentu saja Edward suka Abilene karena dia memperlakukannya dengan baik dan menyayanginya, tapi Edward tidak memiliki perasaan sebagaimana Abilene menyukai Edward.

Selama itu Edward berpikir hidupnya takkan berubah, Abilene akan tetap di sampingnya, dan ia akan tetap menjadi boneka yang luar biasa.

Sampai suatu hari, ketika bajunya terlepas dari tubuh porselennya, ia terlempar, dan terpisah dengan Abilene. Saat itu pula hidupnya benar-benar berubah.

Setelah itu, Edward menjalani kehidupan yang benar-benar terbalik. Perjalannya teramat panjang dan dipenuhi ketidakmujuran. Ia berkali-kali dipungut oleh orang yang berbeda-beda, dan setiap kali itu pula ia berubah-ubah nama. Melewati begitu banyak perpisahan, ia nyaris putus asa

Tubuhnya pernah hancur, ia pernah dipasang di tiang untuk menakuti burung-burung, pernah pula dijadikan boneka perempuan.

Yah, intinya perjalanan itu akhirnya membuatnya belajar sesuatu.

Biarpun sekilas tampak kekanakkan, buku ini bagus juga dibaca orang-orang dewasa. Oh, buku ini bagus dibaca oleh semua umur! Saya sangat senang bisa membaca cerita seperti ini.

Kate DiCamillo benar-benar hebat untuk membuat cerita yang sederhana tapi dengan pesan luar biasa. Tidak hanya pesannya, rangkaian  cerita yang dijalin begitu mengalir dan membuat saya terhanyut. Ditambah lagi, tidak ada ‘bagian ini membosankan dan bagian ini kembali seru’ atau semacamnya, cerita dibuat menarik sejak awal. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Tokoh-tokoh yang muncul di kehidupan Edward silih berganti, saya paling suka Bryce dan Sarah Ruth. Bisa-bisanya buku anak-anak ini mengaduk-aduk batin. Saya mengeluarkan air mata ketika membaca bagiannya, ya ampun, bahkan saya ingin menangis saat ini juga, ketika mengingatnya, hahaha.

Ini adalah buku sederhana yang mengajarkan kita betapa pentingnya menyayangi dan disayangi. Betapa apa yang terjadi di masa depan tak bisa diperkirakan. Betapa sebuah kejadian dapat membuat hidupmu terjungkir sempurna. Kita tak bisa menjamin keadaan selamanya tenang dan nyaman. Karena itulah hidup.

5 dari 5 bintang.

Postingan lain tentang novel ini: Scene on Three (23)

Advertisements

Scene on Three (23)

“Aku tidak ingin disayang lagi. Terlalu menyakitkan.”

“Astaga,” kata si boneka tua. “Mana keberanianmu?”

“Di suatu tempat, kurasa,” sahut Edward.

“Kau mengecewakan aku,” katanya. “Kau sangat mengecewakan aku. Kalau kau tidak punya niat untuk menyayangi atau disayang, seluruh perjalanan ini percuma. Sebaiknya kau lompat saja dari rak ini sekarang juga dan biarkan dirimu hancur jadi jutaan keping. Lupakanlah. Lupakanlah semua sekarang.”

 

Diambil dari The Miraculous Journey of Edward Tulane (Perjalanan Ajaib Edward Tulane) karya Kate DiCamillo. Menyayangi atau disayang kadang emang nggak seindah yang dibayangkan, apalagi kalau yang disayangi atau disayang pergi. Berkali-kali pasti makin dalam juga lukanya. Tapi kayak kata si boneka tua itu, selama masih hidup harus ada niatan menyayangi atau disayang, jika tidak, maka hampalah hidup. Dan itu sedikit banyak mirip dengan ‘mati’. Makanya ia menyuruh Edward untuk terjun dari rak supaya dia hancur, karena semuanya percuma. Scene yang bagus, dan cukup menampar…

 


Mau ikutan Scene on Three? Klik gambar di bawah dan lihat ketentuannya.

scene-on-three