Anak yang Gemar Membuat Puisi Itu

Aku telah berada di penginapan sederhana ini selama tiga hari, memberi ruang untukku beristirahat sebelum kembali melanjutkan agendaku berkeliling pulau sendirian hanya dengan sepeda. Tapi ternyata kampung ini lebih dari sekadar memberiku tempat penginapan. Tak jauh, aku bisa mendaki sebuah bukit yang jika duduk di ujungnya, aku bisa melihat hamparan sawah yang hijau. Selain itu, ada anak kecil yang cukup menyenangkan yang selalu membuntutiku hingga akhirnya kuajak ia ke mana-mana, namun sayang sekali ia tidak ada ketika aku jalan-jalan dan menemukan bukit. Ia adalah anak pemilik penginapan.

“Kau sedang menulis apa?” tanyaku yang memergokinya sedang menulis di halaman belakang penginapan.

“Puisi,” katanya.

Aku meminta izin untuk melihatnya. Di dalam buku usang dan kekuningan itu, terdapat puluhan puisi yang sudah dibuat. Aku, sungguh kagum padanya. Hanya saja satu hal membuatku tersentak. Kesemua puisi itu bertema gelap. Kesedihan, kemuraman, bahkan kematian. Tidak begitu cocok dengan dunia anak yang riang dan ceria.

“Bagus,” ujarku sambil mengusap kepalanya. “Kau mau membuatkanku puisi? Tapi tentang keindahan bukit, kau tahu kan, di sebelah sana itu?”

Sesaat anak itu menatapku. Lalu ia berteriak, “Tidak mau!” dan berlari pergi dariku.

Hari ini hari kepergianku dari penginapan. Sejak pagi aku tak melihat anak itu beredar seperti biasanya. Aku merasa bersalah namun aku tak tahu apa yang menyebabkan anak itu marah. Maka dengan kecewa, aku pamit pada pemilik penginapan.

“Terima kasih, Pak, Bu, saya senang menginap di sini. Titip salam buat anak Bapak dan Ibu, ya.”

Mereka tampak keheranan, ada sekelebat ketakutan yang singgah di bola mata mereka. Lalu si bapak mengatakan, “Kami sekarang sudah tidak punya anak. Anak kami meninggal tahun lalu, jatuh dari bukit dan tenggelam di kolam dekat sawah.”


Hari ke-30 (terakhir, yeay! :D) #NulisRandom2015 yang diadakan @nulisbuku

Advertisements

Ikan Asin Dibalikin

Ini adalah cerita yang saya dengar dari ibu saya juga. Saya akan menuliskannya pendek saja dan supercepat karena deadline. Ah, tak usah dalam konsep macam cerita pendek aja lah ya.

Jadi begini, alkisah pada suatu hari di tanah Sunda yang notabene penyuka ikan asin, sebuah keluarga baru saja mau makan siang. Lauknya hanya satu ikan asin. Mungkin sejenis ikan peda, yang jelas lebih besar dari ikan teri. Atau memang ikan peda hahaha. Orang-orang kampung yang miskin sering kali makan dengan ikan asin yang cuma dicocol-cocol ramai-ramai, biar ikannya awet, yang penting si nasi ada rasa asinnya (saya sangsi sekarang masih ada yang makan dengan metode begitu). Baru deh kalau udah terasa mesti dicubitin ikannya, mereka makan ikannya sedikit-sedikit sebagai pengasin nasi.

Tapi tepat ketika mereka mau makan, datang segerombolan tamu. Dan karena tamu adalah raja yang mesti disuguhi, mereka menyuguhkan makanannya (sebakul nasi dan satu ikan asin). Ah! tentu saja meskipun keluarga itu merasa senang telah bisa menyuguhi tamu, mereka juga agak sedih karena nggak jadi makan.

Si anak mengintip dari balik pintu, memperhatikan betapa lahapnya tamu-tamu.

“Bu, kita nggak jadi makan?” tanya si anak.

“Sabar, ya, mungkin mereka makannya nggak bakal abis. Kita tunggu aja. Kayaknya mereka bakal ngehabisin satu sisi ikan aja. Sisanya bisa buat kita.”

Si anak tetap diam-diam mengamati. Semakin melihat tamu-tamu yang lahap, semakin tersiksa rasanya. Satu sisi ikan asin nyaris habis, si anak berharap mereka segera berhenti makan. Tapi ternyata tidak. Mereka terus makan, dan pemandangan yang tidak diharapkan si anak pun terjadi.

“Bu, ikan asinnya dibalikin.”

Begitulah ceritanya, tamat sampai di situ. Salah satu cerita yang terus menempel di pikiran saya dari dulu. Mengenaskan dan nahas. Apalagi ketika si anak dengan kubayangkan sungguh nelangsa dan pasrah memberitahu ibunya bahwa ikan asinnya dibalikin, yang artinya kemungkinan besar bakal dihabiskan tamu-tamu dan tak menyisakan sedikit pun buat mereka.


Hari ke-29 #NulisRandom2015 yang diadakan @nulisbuku

Singkong Rebus

“Bu, aku lapar,” rengek seorang anak kecil pada ibunya. Tubuhnya kurus seperti bunga layu.

“Shhh, sebentar ya, Nak. Nasinya belum matang.” Sang ibu merangkul anaknya dan mengeloninya.

“Kenapa lama sekali?”

Ibunya tak menjawab. Ia menepuk-nepuk kepala anaknya. Di dapur yang hanya terpisah satu sekat bilik bambu, sebuah panci duduk di atas tungku yang menyala. Ia menarik napas dan mencoba mengeluarkan kesedihan yang menggumpal di dalam dirinya. Entah sampai kapan ia akan berbohong pada anaknya bahwa yang ada di dalam panci itu adalah beras yang sedang dimasak, karena pada kenyataannya, isinya hanyalah bebatuan.

“Sebaiknya kau tidur dulu, nanti tahu-tahu nasi sudah masak,” bujuk sang ibu.

Ayahnya yang baru saja pulang dan lagi-lagi tak mendapatkan apa-apa untuk diberikan kepada keluarganya diam-diam mendengarkan dan menangis setelah mencari tahu apa isi di dalam panci. Ia merasa bersalah telah membuat mereka berdua kelaparan, tersebab dialah sang kepala keluarga. Dilihatnya kini anaknya tertidur. Maka setelah berbicara pelan pada istrinya untuk tidak khawatir, ia pergi lagi untuk mencari yang bisa dimakan.

***

“Bukankah tadi ibu memasak nasi? Kenapa jadi singkong?” tanya anaknya keheranan namun sambil lahap memakan singkong rebus.

“Sudahlah, mungkin ibu salah ucap,” Sang ayah mengelus rambutnya. “Enak, kan, singkongnya?”

“Enak!” seru sang anak dengan cengiran lebar. Kemudian ia melihat ibunya yang sedari tadi berkaca-kaca dan tampak menahan tangis. “Kenapa ibu menangis?”

“Ibu terharu melihatmu semakin tumbuh besar,” ujar ibunya.

“Dan ayah juga, kenapa wajah ayah memar?”

“Tak apa, tak usah khawatir,” kata ayahnya tersenyum.

Sampai besar pun anak itu tak tahu bahwa singkong rebus yang ia makan kala itu merupakan singkong yang dicuri ayahnya secara terpaksa dari kebun orang lain kemudian ketahuan warga dan dipukuli sampai lebam. Meski pada akhirnya ayahnya dibebaskan setelah ia memohon ampun dan menceritakan bahwa anaknya kelaparan.


Hari ke-28 #NulisRandom2015 yang diadakan @nulisbuku

Karena nggak ada ide, jadi saya menulis ulang cerita yang dulu diceritakan ibu saya ketika saya rewel. Nggat tau beliau dapet dari mana :mrgreen: