“Hai.”

“Apa kau ingin aku membalasmu?”

“Membalas apa?”

“Ucapan hai.”

“Terserah.”

“Apakah terserah yang dimaksud adalah terserah yang biasa diucapkan oleh perempuan ngambek?”

“……”

“Apa itu?”

“Titik-titik.”

“Bukan, maksudku, apa aku harus mengisinya?”

“Yaaaa…”

“Lalu mana soalnya?”

“Soal apa?”

“Hei, jangan bercanda. Bagaimana mungkin aku bisa mengisinya jika tidak ada soal!”

“Maumu apa sih?”

“Maumu kau memberiku soal, atau aku tidak akan mengisinya.”

“Tidak usah diisi!”

“Kenapa?”

“Karena kau menjengkelkan aaaaaarrrrrgh.”

Aku benar-benar melihat para jari tangan itu menjejak di atas pasir. Sementara kakinya mengapit segelas air kelapa muda.

“Oh…” telinganya mengatup-ngatup takjub. “Lihatlah ke timur, sebentar lagi matahari tenggelam.”

Di balik kaus tipis itu, pusarnya lantas tertawa.