Scene on Three (22)

Abdullah bin Muhammad Al-Missri, pengarang dalam bahasa Melayu, menulis memoar tentang semasa Daendels pada kurang 1815, bahwa semua kekayaan di Bumi Jawa: “Harus sampai ke negeri Belanda, karena memang begitu, si opas menipu pegawai pelabuhan, yang menipu jurutulis kantor, yang menipu petor, dan petor menipu anggota dewan Hindia Belanda, yang menipu Gubernur Jenderal, Gubernur Jenderal menipu majikannya Raja Belanda.”

 

Penggalan ini diambil dari buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels karya Pramoedya Ananta Toer. Di masa penjajahan itu, rakyat yang cuma menikmati seperempatbelas dari hasil panennya, itu pun belum kalau harus bayar pah pasar dan lain-lain. Sementara sebagian besar lainnya sampai ke Belanda dengan serangkaian praktik korup di perjalanannya. Ditambah lagi, dibalik ‘kaya’nya rakyat Jawa, Cuulturstelsel (tanam paksa) yang diberlakukan penjajah membuat ribuan rakyat kecil mati berkaparan tak terkuburkan karena masyarakat desanya saja dilanda kelaparan sampai tak bisa bangkit dan mengurusi mayat-mayat saudaranya. Penjajahan emang sadis ya, saya gak bisa membayangkan kalau saya hidup di zaman itu…


Mau ikutan Scene on Three? Silakan klik gambar di bawah dan lihat ketentuannya.

scene-on-three

 

Advertisements

Scene on Three (21)

“Namun, jika segala sesuatunya begitu menyenangkan di Golmira, mengapa kau pergi menuju Keladon?”

Wajah Cornelius menjadi pucat dan dia menunduk menatap cangkir kopinya. “Karena sesuatu telah terjadi,” katanya. “Sesuatu… sesuatu yang bodoh.”

Sebastian dan Max dengan sabar menanti apakah sesuatu itu. Namun, akhirnya Max yang harus memulai. “Silakan, kau boleh membagi cerita itu kepada kami.”

“Seorang… penguasa yang suka ikut campur… seorang yang ternyata idiot… mendesak diberlakukan peraturan yang menyatakan bahwa setiap anggota prajurit kerajaan haruslah…”

“Ya?” tanya Sebastian.

“… haruslah… ya, memiliki tinggi badan tertentu.”

“Oh,” Max dan Sebastian menyahut bersamaan.

Penggalan ini diambil dari novel Prince of Fools karya Philip Caveney (Sebastian Darke #1). Cornelius adalah orang kerdil, sebelumnya dia adalah prajurit kerajaan di Golmira, dan dia bisa membuktikan kalau dia prajurit yang hebat, sampai suatu ketika seorang penguasa memberlakukan peraturan bahwa seorang prajurit harus memiliki tinggi badan tertentu.

Sebagai orang pendek, saya bisa merasakan kesedihan Cornelius (tapi maaf, Cornelius, aku tak sekerdil dirimu, jika dikumpulkan semua perempuan di negeri ini, niscaya akan banyak sekali orang yang sependek diriku). Dan untung saja saya tidak pernah bercita-cita menjadi model, polwan, pramugari, apalagi prajurit kerajaan!

 


 


Mau ikutan Scene on Three? Silakan klik gambar di bawah dan lihat ketentuannya.

scene-on-three

 

Scene on Three (20)

“Meratapi pot tua jelek itu—sebelum sarapan, di pagi yang cerah begini lagi. Kalau aku, sudah kuhancurkan barang jelek usang itu dan selesai dengannya—biarpun aku benar-benar berpikir kau akan menyukainya,” dia memperhatikan tatapan kesal dari pria tua itu, dan meletakkan piring-piring di atas meja dengan tidak sabar. “Apa gunanya menyesali kejadian yang sudah lewat dan tidak bisa diubah! Cuma masa depan yang bisa kita ubah, dan ke sanalah kita harus berpikir, dan memperbaiki kejadian di masa lalu.”

 

Diambil dari novel Knock Three Times karya Marion St. John Webb. Menyesali kejadian masa lalu bukan hal aneh lagi buat manusia, meskipun sudah ditekadkan untuk melupakannya tapi enggak segampang itu. Kadang-kadang butuh kekuatan super. Dan kadang-kadang memang menjengkelkan juga liat orang yang suka meratapi kejadian yang sudah lampau (kalo orang lain pelakunya kan biasanya lebih peka buat jengkel). Sudahlah jangan meratapi masa lalu (ini saya ngomong sama diri sendiri juga), kayak kata lagu dangdut; masa lalu biarlah masa lalu.

 

_________________________________

Mau ikutan Scene on Three? Silakan klik gambar di bawah dan lihat peraturannya.

scene-on-three